MISSION ACCOMPLISHED

Belakangan ini, saya sedang menimbang-nimbang makna ‘me time’.

Sebelumnya, saya ga bisa terima pas seorang sahabat bilang, “Me time-nya pas main sama anak aja.” Ga bisa, gimana mungkin? Cape ngantor, cape ngurus rumah, maka ‘me time’ bagi saya adalah beraktifitas sendiri, tanpa gangguan urusan rumah tangga dan kantor, termasuk anak dan suami.

Egois? Ya nggaklah, menurut saya sih. Setiap hari mengurus orang, saya berhak dong punya hari libur untuk mengurus diri sendiri.

Sayangnya, ‘me time’ a la saya itu jarang bisa kesampaian. Karena hanya dibantu asisten cuci-setrika saja, maka begitu buka pintu rumah, kerjaan rumah langsung harus ditangani.

Mau meninggalkan rumah rada lama, misalnya ke salon atau belanja sendirian, musti nyari waktu ketika suami libur, agar bisa nitip rumah dan tiga anak. Jadi memang (sekarang ini) masih sulit menekuni hobi atau ikut kelas aerobik atau apalah yang bisa dibilang ‘me time’. Apalagi ngopi-ngopi bareng teman lama, ga mungkin lah.

Makanya saya sering kesel. Cuma kepengen ngider di toko buku dengan tenang aja kok susah banget.

Tapi berinteraksi dengan banyak pemikiran sahabat-sahabat para emak jempol, saya mulai merasakan bahwa ada yang salah dengan cara saya memandang ‘me time’ itu.

Barangkali saya terlalu sempit mengartikan ‘me time’, tidak berpikir out of the box. Padahal harusnya, waktu yang digunakan untuk membuat passion pribadi tercapai bisa juga dibilang ‘me time’. Jadi kalau begitu, ‘me time’ saya adalah…. ya, jadi guru.

Pekerjaan yang saya pilih untuk mewakili passion pribadi adalah dengan menjadi guru. Alhamdulillah, izin suami sudah di tangan. Hanya belum dimaksimalkan.

Mulai sekarang, tiap saya berangkat bekerja, saya berusaha melakukannya dengan fokus dan sadar (concious). Saya merencanakan pembelajaran yang menyenangkan, berusaha bersinergi dengan rekan-rekan guru, memikirkan program pengembangan apa yang bisa diusulkan untuk mengembangkan potensi semua warga sekolah.

Lalu saya bertanya: Do I like what I do? Do I live my dreams? Am I happy doing this job?

YES I DO!
YES I AM!

Saya puas, saya bersyukur. Meski sering kali banyak hal tidak selesai, terganjal masalah di sana-sini, tapi alhamdulillah saya bisa pulang dengan bahagia, dengan puas. Saya telah ‘merawat’ diri saya, bukan cuma mengurus rambut dan kuku, atau membeli tas baru agar matching dengan sepatu, tapi memuaskan akal, mengeluarkan potensi, dan akhirnya mencukupi kebutuhan jiwa ini.

It’s my me time. Mission accomplished.

Rasa puas itulah, yang timbul karena saya memilih pekerjaan yang saya sukai, yang membuat saya siap memberikan diri saya full pada keluarga sejak pertama kali membuka pintu rumah.

Barulah saya sadar, ternyata tak sulit untuk jadi orang (= ibu) yang bahagia.

Advertisements