JANGAN CENGENG!

Nyanya meninggal dunia.

Ketika ta’ziyah, tak banyak air mata yang berhamburan. Ternyata usianya sudah 104 tahun, jadi semua orang sudah mafhum bahwa usianya memang mungkin tak panjang lagi.

Saya beberapa kali bertemu Nyanya, karena beliau adalah nenek dari ipar saya, tapi yang baru saya ketahui adalah bahwa Nyanya memiliki 17 anak. Iya, saya tidak salah mengetikkannya: tujuh-belas. Yang masih hidup sekarang 11 orang, tapi anak-anak yang meninggal pun bukan saat bayi, tapi sudah cukup besar.

Ya, kita semua pasti tidak mengerti, bagaimana seorang ibu mengelola rumah tangga sebesar itu tanpa bala bantuan dari art dan baby sitter, juga tanpa bantuan teknologi. Tapi yang lebih membuat saya kagum adalah pernyataan penuh cinta dari anak-anaknya:

“Nyanya tidak keluar rumah untuk ke pengajian, sampai suaminya meninggal dan anak-anaknya besar.”

Di kampung Betawi saya, datang kepengajian bukan sekedar mencari ilmu, tapi merupakan cara ibu-ibu bersosialisasi dan rekreasi, bahkan bisnis. Mungkin segala hal yang bisa dibayangkan sebagai aktualisasi diri. Mereka tidak mengadakan kumpul arisan kompleks, ngopi bareng, jalan ke mal, demo produk, tapi datang ke pengajian.

Dan Nyanya rela meninggalkannya untuk anak-anaknya.

Saya membayangkan menampar diri sendiri saat itu (ah, untung hanya membayangkan ^_^;). Merasa sangat egois, karena tak juga bisa berlapang hati melepaskan beberapa kesempatan menimba ilmu karena anak-anak masih kecil. Yang bungsu bahkan belum waktunya disapih.

Padahal anak saya hanya 3. Paling hanya menunggu sekitar 2 tahun saja bila ingin sesekali menitipkan anak untuk acara seminar sehari, atau sharing di tempat yang agak jauh. Dibanding Nyanya yang beranak 17, saya merasa malu sudah banyak mengeluh.

Loh, memangnya kenapa kalau menitipkan anak 1,5 tahun untuk pelatihan beberapa hari di luar kota? Rekan-rekan kerja saya melakukannya. Siapa yang melarang saya?

Tidak ada, hanya hati ini yang tidak tega. Ini bukan masalah mana pendapat yang lebih benar, antara saya dan rekan-rekan kerja yang sama-sama punya anak kecil. Ini masalah prinsip apa yang dipegang oleh masing-masing pribadi. Nah, kalau prinsipnya sudah dipegang, mengapa pula masih tidak ikhlas.

Ayo, jangan cengeng!

Nyanya meninggal dunia di usia 104 tahun tanpa penyakit di badan selain lemah karena tua. Dia tidak memiliki penyakit jantung, kolesterol, diabetes, bahkan tubuhnya tidak bungkuk sampai akhir hayat. Sekali lagi saya ingatkan, dia melahirkan 17 anak.

Anak-anaknya bercerita, setiap hari Nyanya memerah susu kambing dan meminumnya.

Satu hal lagi yang saya pelajari tentang jangan jadi perempuan cengeng. Ketika saya mengeluh tak sempat merawat diri karena sibuk mengurus keluarga, itu perlu diragukan kebenarannya. Hah, tidak mengurus diri karena banyak anak? Bukankah itu sebuah kecengengan yang lain lagi?

Jadi sudahlah Irma, tak perlu banyak bicara, mengeluh betapa sibuknya kamu, betapa sempitnya waktu untuk menjadi ibu yang sehat dan bahagia. Semua ibu di dunia juga repot, beranak sedikit atau banyak. Repot dengan urusan yang berbeda, meski tak selalu kerepotan itu diumbar-umbarnya padamu.

Jangan cengeng. Uruslah anak-anakmu, dan minumlah susu.

SELAMAT HARI IBU.

CINTA ITU SEDERHANA

Saat SMP saya gemar membaca puisi cinta dari kartu bermerek ‘Harvest’ dan mengoleksi lirik lagu romantis. Cinta itu begini, cinta itu begitu, katanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat SMA hingga masa kuliah, hati saya juga merasakan gejolaknya mengiringi kisah-kisah masa muda. Cinta itu begini, cinta itu begitu, rasa-rasanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat ini saya menikah 10 tahun, beranak 3. Saya pikir saya sudah mengerti tentang cinta sekarang, tapi ternyata masih juga belum. Paling hanya sepotong pemahaman, bahwa cinta saya telah berubah. Bukan hanya pada suami, juga pada anak. Cinta ini rasanya tak pernah lagi sama.

Saya selalu tergila-gila pada anak-anak saya setelah mereka dilahirkan. Ehm, mungkin tepatnya, setelah mereka dilahirkan dan masa baby blues berlalu ^_^;. Tapi ya, saya jatuh cinta setengah mati. Tak ingin berada jauh, tak pernah bosan menatap, selalu ingin bersentuhan, tak peduli waktu yang hilang ketika sedang bersama.

Tapi itu wajar bukan? Bayi amat mudah dicintai.

Tapi bagaimana mencintai anak ketika tantrum di pusat perbelanjaan yang ramai, ketika menumpahkan habis 600 ml sabun mandi ke dalam bak, ketika menolak masakan disiapkan dengan berkeringat, ketika menarik kerah baju adik bayinya hingga jatuh terduduk?

Tapi bagaimana mencintai anak menjelang ABG, ketika mulai keras kepala, ketika terus menyusuli semua perkataan kita dengan “Emang kenapa?”, ketika berkata “Tidak mau” dengan tegas bahkan sebelum kalimat kita selesai?

Sama halnya dengan jatuh cinta pada pemuda yang mengirimkan sms “Good night, sleep tight” setiap malam dan memberimu mawar ketika ulang tahun. Samakah cara mencintai dia ketika telah menikah sepuluh tahun?

Tidak bisa, tidak bisa cinta yang sama, yang berbunga-bunga dan penuh mimpi. Cinta ini harus berubah, menjadi lebih dewasa dan realistis. Cinta dengan kompromi dan toleransi.

Dan, saya masih merasa tak paham arti cinta.

Jadi teringat kata-kata seorang dosen saya di kampus dulu. Dia bilang, MAU itu lebih penting daripada CINTA. Jadi tak perlu menikah atas nama cinta. Yang penting dua-duanya MAU. Mau saling membantu menciptakan rumah yang hangat, mau saling mengingatkan untuk tetap berada di jalanNya, mau menemani sampai usia senja.  .

Hmmm, mungkin memang cinta tidak serumit yang saya kira ^_^.