DANDANDANDAN

“Lagi sakit, ya?”

Itu adalah pertanyaan amat disebelin sama ipar saya, yaitu dituduh sakit. Apa pasal? karena dia tidak pakai lipstik, hehehehe…. Beneran, ini. Saya ga tau juga sih bagaimana kebiasaan dandan teman-teman ipar saya, namun kelihatannya lipstik adalah sebuah kebiasaan umum di sana.

“Perempuan seumur kita harus dandan, biar kelihatan seger, ga pucet,” begitu nasihat teman-temannya.

Yap, saya setuju. Tapi sebelumnya, kita samakan persepsi dulu, dandan itu apa sih?

Jadi ingat kata-kata seorang artis di tv, “Kalo keluar rumah ga perlu dandan. Cukup pelembab, lipgloss, dan maskara.”

Hah, maskara?

Sependek ingatan saya, kayaknya saya sendiri baru 2 kali didandanin full. Yang pertama saat menikah, yang kedua saat pernikahan adik pertama saya. Nah, pas yang kedua kalinya itu, begitu keluar dari kamar rias, kan ketemu suami. Dia langsung masang tampang aneh.

“Kok jadi keliatan lebih tua?”

Dhoeeeeng…. Kapok dah dandan kayak gitu lagi.

Agama saya memerintahkan istri berhias untuk suami. Jadi memang harusnya lebih heboh dandan di rumah daripada di luar kan, ya. Tapi kebetulan suami saya ga suka saya dandan macem-macem kalo di rumah. Yang penting bersih, ga bau, itu aja. Ya biarpun ngomongnya ampun dah suka jujur banget, tapi alhamdulillaaaah dikasih suami yang ga rewel minta macem-macem.

Kalo keluar rumah tanpa suami, maksudnya sendiri atau hanya sama anak-anak, saya maleeees banget dandan. Misalnya kalo ke mini market, biasanya saya pakei daster sebetis, dirangkap sama celana kulot, lalu pakai jaket (karena lengan dasternya pendek), terus jilbab, plus sepatu pantofel (bekas ngajar tadi pagi, soalnya males banget ngeluarin sendal). Ancur dah. Padahal agama saya mengajarkan keindahan yah. Duh Gusti, ampunilah kemalasan ini….

Cuma kalo jalan sama suami, harus dandan juga dong dikit. Bajunya harus rapi, warnanya serasi, pake pelembab dan bedakan juga. Suami ga pernah ribet-ribet soal ini, tapi saya pikir ya istri kan ga boleh malu-maluin suami toh. Paling nggak, masyarakat harus diyakinkan bahwa suami saya punya selera yang cukup bagus ketika memilih istri, huhuuuuuy….

TAKUT TUA

Saya takut jadi tua, sungguh.

Karena pas muda aja tampang ya begini-begini aja, bodi juga begini-begini aja, kalau tua secara fisik sih tidak terlalu masalah. Mungkin tenaga berkurang, rambut memutih, makan kurang selera, wajah keriput. Asal tidak menyusahkan orang lain, cukuplah buat saya.

Yang mengerikan adalah tua jiwanya.

Sekarang saja rasanya sudah lumayan sulit mengikuti kehidupan anak-anak muda ini. Banyak pergeseran yang susah dipahami, banyak trend yang terlewat. Padahal umur saya baru kepala 3, bagaimana jika usia sudah 50 tahunan? Bagaimana dengan kreatifitas, antusiasme, nyali, dan semangat?

Bagaimana cara untuk tetap memiliki jiwa yang muda meski fisik telah tua?

Mario Teguh bilang, orang yang jatuh cinta akan selalu terlihat muda. CINTA, itukah kuncinya? Ketika kita mencintai kehidupan yang kita jalani, mencintai profesi yang kita ambil, merasakan passion dalam segala yang kita lakukan, kita akan terus muda.

ImageHuffff…., susah yah.

Saya jadi ibu baru 8 tahun, jadi guru baru 6 tahun. Nah, bagaimana cara agar bisa melewati tahun ke-30 di dua hal tersebut dengan passion yang tetap menyala?

Dalam novel Takhta Awan, saya menemukan sesuatu yang menarik, sebuah frase indah: himmatusysyabaab, hikmatusysyuyuukh (susah banget nih nulisnya pake Bahasa Indonesia). Perubahan yang positif akan tercipta dari gejolak kaum muda yang didampingi kebijaksanaan para tetua.

Jadi begitukah sunnatuLlah yang harus berlangsung, bahwa bagi tiap generasi, ada tugas-tugasnya?

Tua itu kepastian, entah bagaimana pun cara kita berusaha agar pijar masa muda tetap menyala dalam jiwa.

Maka saya berdoa, kalaupun nanti usia ternyata menggerus semua kemudaan yang saya punya sekarang, mudah-mudahan pada saat itu pula, kebijaksanaan telah saya dapatkan.

MANUSIA TANPA SIDIK JARI

Siapa?

Saya, hehehehe…..

Waktu perpanjang paspor kemarin, perlu waktu berkali-kali untuk memindai sidik jari kanan saya. Yang kiri?

“Tangannya ditekan, Bu,” kata petugasnya. Jadi saya menekan tangan kiri di atas pemindai dengan kuat, ditambah tangan kakan ikut membantu di atasnya. Hasilnya? Nihil, tidak terbaca, hehehehe…

“Makanya si Ibu jangan disuruh nyuci, Pak,” seloroh Pak Petugas pada suami. Padahal di rumah saya ga nyuci pakaian atau piring kotor, kecuali pas asisten part time berhalangan atau sedang lebaran.

Habis gimana dong…. Tangan saya itu alergi sama deterjen, segala jenis deterjen, juga sampo anti ketombe, juga lauk mentah, juga getah sayuran/buah, juga lotion yang keras parfumnya, banyak deh…. Sering diledekin ‘tangan orang kaya’ sama temen-temen. Harus punya asisten untuk cuci dan masak, keramas aja mesti di salon.

Tangan orang kaya?

Beberapa waktu yang lalu, ibu saya pulang umrah. Dia beli 3 buah cincin emas untuk anak-anak cewe, yakni saya dan dua ipar saya. Tau kan, yang modelnya gede lebar tipis itu loh….

Ketika kami main ke rumah ibu saya, dia bertanya, “Wah, kok cincinnya ga dipake?”

Sambil nyengir saya jawab, “Alergi, Ma.”

Sama emas juga alergi ternyata!

TAK ADA JAMINAN?

Saya baru menyelesaikan 49 Days. Waktu dulu tayang di tv, ga sempet ngikutin, jadi dikejar selama libur 4 hari (ruangan kelasnya dipake UN SMP, bok ^_^).

Ceritanya tentang seorang perempuan bernama Ji-Hyun yang mengalami kecelakaan mobil seminggu sebelum pernikahannya. Unsur kepercayaan asli Korea muncul dalam drama ini, yang mengatakan bahwa arwah akan berkeliaran selama 49 hari sebelum akhirnya pindah ke akhirat.

Karena masih penasaran dengan hidupnya, Ji-Hyun nego dengan Scheduler alias Pengatur Jadwal agar bisa kembali ke dunia. Lha seminggu lagi mau nikah, gitu kan. Scheduler kasih syarat: sebelum 49 hari, kumpulkan 3 tetes air mata dari orang-orang non keluarga yang mencintainya dengan murni.

Terus? Yaaa…. kalo minat silakan nonton sendiri, karena yang saya pikirin bukan seru enggaknya drama ini.

Jadi apa?

Gini loh. Ketika jadi arwah gentayangan tapi cantik itu, Ji-Hyun menemukan bahwa si calon suami, yang seminggu lagi mau nikah dengannya itu, ternyata selingkuh dengan teman terbaiknya, yang jadi pengirin pengantin nantinya.

Jelas Ji-Hyun ga habis pikir. Gimana mungkin sih? Setiap hari tunangannya itu sms berkali-kali. Tiap ada waktu luang selalu langsung datang menemui Ji-Hyun, foto Ji-Hyun segede gaban di apartemen, bahkan password pintu apartemennya adalah hari ulang tahun Ji-Hyun.

Tapi kok selingkuh?

Cerita Ji-Hyun di 49 Days memang fiktif, tapi cerita serupa ternyata nyata di sekeliling kita. Di buku lamanya Asma Nadia, The Real Dezperate Housewife, ada satu cerita serupa. Suami shaleh, cinta banget sama istri, ayah teladan sedunia, keluarga bahagia, tapi ternyata selingkuh.

Kok bisa?

Apa itu artinya kita ga bisa percaya 100% pada pasangan? Masa’ iya harus jadi orang yang paranoid, curigaan, ga tenang? Katanya landasan sebuah hubungan salah satunya adalah rasa percaya?

Ngomong-ngomong tentang rasa percaya, rasanya kita juga pernah mendengar cerita tentang anak sempurna dari Pak Anu atau Bu Anu yang tau-tau menghamili anak orang, atau overdosis, atau apalah yang tiba-tiba bikin kita bertanya: “Kok bisa?” Apa artinya kita juga ga bisa percaya 100% pada anak?

Yah, tentu saja. Harus ada cukup rasa khawatir pada orang-orang tercinta. Tidak banyak, bukan curiga berlebihan, tapi cukup untuk membuat kita waspada. Jangan-jangan ini berkaitan dengan kebersihan hati juga yah, tentang bantuan Allah berupa sensitifitas dan petunjuk pada kenyataan yang sebenarnya.

Ah, jadi galau….

Tapi bukan cuma pada orang-orang terdekat saja. Saya merasa juga perlu khawatir pada DIRI SENDIRI. Tidak pernah ada jaminan saya sendiri tidak akan tergelincir. Tak pernah ada jaminan….

AstaghfiruLlah al-Adziiim…

SEMPURNA ITU BANYAK CARANYA

Kenyataannya:

Si Akang dosen matematika.
NEM matematika saya ngepas di angka 3.
(kalo sekarang ikut UN ga bakal lulus)

Si Akang jago hampir semua olahraga permainan.
Saya naik eskalator masih kagok sampai sekarang.

Si Akang selalu meletakkan barangnya di tempat yang sama.
Saya benar-benar acak-acakan.

Si Akang suka yang namanya ‘persiapan’.
Saya suka yang namanya ‘kelupaan’.
(yang hidup/bekerja dengan saya pasti tau kebiasaan ini)

Si Akang pinter nyanyi.
Saya buta nada.

Si Akang tipe koleris. .
Saya tipe plegmatis.

Alhamdulillah setelah bertemu dengan lelaki ini, hidup saya jadi agak teratur sekarang ^_^;

Dengan kenyataan seperti di atas, apakah saya merasa minder? Misalnya merasa kurang cerdas, kurang berbakat, atau apa gitu? Nggak tuhh….

Ambil satu sifat saya: acak-acakan. Bukan hanya barang-barang saja saya berantakan, cara saya berpikir juga acak. Tepatnya Acak-Abstrak (AA), begitu kata Quantum Learning.

Apa berotak AA adalah sebuah kekurangan? Bisa saja, tapi sekaligus juga jadi kelebihan. Orang yang otaknya bekerja secara AA katanya, katanya niiiiiih, kreatif loh….

Jadi, memang saya harus berlatih meletakkan barang pada tempatnya dan menghilangkan penyakit ‘pelupa’ saya, tapi biarlah cara bekerja otak AA saya tetap apa adanya.

Si Akang orangnya well-prepared dan well-organized. Nah, ini di orang yang otaknya bekerja secara sekuensial. Bagus sekali bukan? Tapi satu hal dari orang-orang macam ini adalah sulit fleksibel pada kondisi yang kadang tak sesuai dengan rencana.

Semua hal yang saya katakan tentang diri sendiri: bodoh dalam matematika, ga bisa olahraga, acak-acakan, buta nada, saya tuliskan dengan gembira, tanpa ada perasaan minder. Yah, kecuali pada bagian ‘pelupa’, karena kadang-kadang bisa jadi amat menyulitkan.

Sepertinya hal itu karena -pada akhirnya- saya mampu mengakui kehebatan orang lain tanpa harus menjadi minder. Di sisi lain, saya jug menerima kekurangan diri, sekaligus tau apa yang saya banggakan dari diri sendiri. Alhamdulillah.

Saya tuliskan kata ‘pada akhirnya- karena memang pada akhirnya di usia kepala tiga, barulah saya bisa mencapai titik ini, di mana saya mensyukuri bagaimana Allah menciptakan saya. Apa adanya.

Saya merasa, ketika kita mulai menerima diri apa adanya, saat itulah kita bisa mulai ‘bersinar’. Bebas dari perasaan negatif.

Si Akang sempurna, demikian juga saya. Karena sempurna itu ada banyak caranya.

SELAMAT ULANG TAHUN, HUSBAND!
\ ( ^ o ^ ) /