DEAR HUSBAND

Suamiku tersayang,

Jangan melarangku nonton drama Korea ya… Aku janji tidak akan berlebihan, sampai yang lain terbengkalai atau tidak tercapai. Lagipula, kupikir ada juga kok manfaatnya.

Oh, bukan, aku tak akan bilang bahwa drama-drama itu memiliki kualitas cerita yang memperkaya jiwa atau wawasan, karena kenyataannya aku sering sekali memencet tombol fast forward untuk men-skip adegan yang tak terlalu perlu, apalagi kalau sudah menyinggung hal-hal politik atau bisnis yang rumit. Karena itu, sebenanya aku tak benar-benar paham detil ceritanya.

Juga bukan karena drama-drama itu mengajarkan tentang berbgai sisi karakter manusia, karena menurutku yang paling pertama harus diperhatikan dari drama korea adalah apakah tampang pemainnya cakep-cakep.

Juga bukan untuk belajar bahasanya, karena kamu kan juga tahu, Bahasa Inggrisku tak fasih, padahal sudah kupelajari bertahun-tahun di sekolah. Bahasa Jepang cuma seuprit, hasil belajar di supa~ dan flea market. Bahasa Arab sudah berlarian ke mana-mana, padahal gelar sarjanaku dari sana. Bahasa Indonesia kacau tertimpa tiga tata bahasa asing tersebut. Belajar Bahasa Korea? Sepertinya tidak.

Lagipula jika kupakai tiga alasan  ‘intelek’ di atas, kau juga tak akan percaya.

Jadi apa?

Because it keeps me sweet and romantic.

Huhuuuuuy……

Mengingat usia yang sudah melewati tiga puluh sekian, tentu saja aku ingin menjadi perempuan yang berpikiran matang dan lebih tegar. Tapi di sisi lain, aku senang bila ada sebagian jiwa remaja yang masih bisa ditahan untuk tetap tinggal di sini. Masih spontan dan meletup, tidak selalu tenang dan penuh perhitungan khas orang dewasa.

Dan memasuki usia pernikahan kesebelas, tentu saja kita harus menjaga diri agar tetap romantis bukan? Menyenangkan mengetahui bahwa hubungan kita masihlah sepasang kekasih, dan belum bergeser pada cinta platonik. Masih ada berbagai rasa, bukan hanya menerima. Akan ada masanya kita sampai ke sana, insya Allah, tapi jangan terlalu cepat.

Pengaruh drama korea menunjukkan pengaruhnya pada kejadian semacam ini:

Kamu:   Jadi begini, bla…. bla… bla…. (terdengar suara teman-teman sekantor di belakang)
Aku:       (memotong) I love you!
Kamu:    …………………….
Aku:      (nahan ketawa) Kok ga dijawab? Jawab dong!
Kamu:   ……………………
Aku:      (ngakak) Malu yaaaa….

Tentu saja hidup tidak seperti drama Korea. Aku tak pernah memimpikan kehidupan kita akan sedramatik itu. Tapi…. Mmm. kamu tahu Baek Seung Jo? Pasti tidak.

Tidak apa-apa kalau tidak kenal. Sini aku kasih tau, meski hidup bukan drama Korea, aku punya satu Baek Seung Jo di rumah, yang diminta menjawab kata I love you aja susah bukan main ^_^d.

I LOVE BEING ME

Ehehe, makasih ya Mba Yuni June, karena telah memberi judul pada tulisan ini. Ho’oh banget dah, I love being me.

Dulu saya sebel sekali karena jadi orang yang mudah menangis. Kalo bicara dengan emosi, misalnya marah atau terharu atau cemas, nangis… Kalo nonton yang sedih, nangis…. Kalo lihat orang nangis, ikut nangis…. Padahal saya ga bermaksud nangis, cuma airmata keluar sendiri. Kesannya kan cengeng banget, ga tegar.

Sekarang, saya cuek aja. Kalo air mata keluar, saya biarin aja. Kadang digoda sama suami atau anak, saya bilang, “Biarin!” Saya mungkin memang bukan orang yang tegar, tapi biar saya tunjukkan bahwa saya orang yang berhati lembut dan peka. Tsaaaah….

Dulu saya merasa sebal karena merasa terlalu tinggi (padahal cuma 153cm ^_^). Menurut saya, orang yang kecil itu lebih awet muda dan tampak menggemaskan. Kalau besar kayak saya kan nggak bisa dibilang imut.

Sekarang saya puas dengan tinggi tubuh saya, meski tetap berpendapat bahwa orang bertubuh kecil tampak lebih awet muda. Dengan tinggi badan sekarang, saya tidak punya banyak batasan dalam berpakaian. Orang yang lebih kecil harus berhati-hati agar tubuh tidak terlihat semakin kecil, misalnya dengan menghindari pakaian dengan motif ramai, banyak aksesori, atau pakaian berpotongan banyak (>2 pieces). Sedang saya relatif tak ada masalah.

Tinggi badan saya juga menyebabkan saya tidak harus menengadah berhadapan dengan siswa-siswa saya, terutama lelaki yang sedang di puncak pertumbuhan. Karena saya cenderung mudah minder, tinggi tubuh yang cukup membantu mendorong rasa percaya diri.

Dulu saya sebel karena merasa bukan seperti orang yang mengambil peran pemimpin, bukan determined person, ga ambisius, bukan pribadi yang tegas. Sekarang saya tahu bahwa tipe kepribadian apapun bisa jadi pemimpin, hanya saja gayanya yang berbeda. Dan ketegasan tidak selalu berarti sifat kolerik, tapi menjalankan apa yang dikatakan.

Apalagi yah?

Oh mungkin ini. Saya dulu sebel karena ga pintar matematika, terlebih lagi olah raga. Saya benar-benar benci masuk lapangan, karena saya jadi kikuk dan pasti bergerak dengan aneh.

Sekarang, matematika dan gerak motorik adalah alasan saya bermanja dengan suami. Dia yang mengurusi pencatatan keuangan, pembayaran berbagai tagihan, dan segala yang berkaitan dengan hitung-menghitung. Dia juga yang mendorong kereta bayi atau menggendong anak, karena saya cenderung oleng dan mudah kesandung bila membawa banyak barang.

Ah, I love being me. Saya baru sadar sekarang, seperti kata Temple Grandin (sudah nonton filmya? recommended!), “I’M DIFFERENT, BUT NOT LESS!” So, I have no complain, Ya Allah. Alhamdulillah.

Tentu saja kemalasan dan berat badan yang berlebih bukan bagian dari saya, alias saya tidak dilahirkan dengan ciri seperti itu, jadi saya harus berusaha membuangnya. Yekaaaan?

\ ^ o ^ /

WELL ROUNDED

Biasa ikut seminar guru, jadi bingung pas ikut seminar ‘jurusan’ lain. Ada layar di depan, itu mah biasa…. Ada alat tulis dan air mineral di tiap meja, juga biasa….

Tapi yang bikin saya terkesima ketika masuk ruang seminar adalah adalah karena di tiap meja ada cermin. Ada mangkuk-mangkuk berisi cleansing milk, toner, minyak zaitun, pelembab. Ada cape badan dan bandana. Ada jilbab, ciput, dan berbagai macam peniti dan jarum. Dan ada kuas bebagai ukuran dan bentuk, juga palet tata rias warna-warni selebar nampan restoran fastfood.

Wow….
*maklum cewe kuper*

Hari Sabtu lalu, saya mengikuti hijab & beauty class dari myRin dan Wardah. Selama kurang lebih 2 jam pertama, saya diajari macam-macam kuas dan pensil, serta belajar menggoreskan, menyapukan, meratakan, membentuk, membaurkan berbagai warna di atas wajah sendiri. Ternyata susaaaah…

Dua jam berikutnya, saya dan peserta lain memutar-mutar jilbab dan pashmina di depan cermin. Jarum-jarum ditusukkan di sana-sini, pas mau pindah ke model berikutnya, lupa lagi tadi di mana tempat nusukin jarumnya. Hehehe, seru deh.

Lebih seru lagi karena bayar 200.000, dapet paket jilbab seharga 175.000 dan paket kosmetik seharga 93.000. Lumayan, karena jilbab dan kosmetiknya ga aneh-aneh jadi bisa dipakai sehari-hari. Ada doorprize, tapi saya ga dapet. Saya mah ga pernah dapet kalo soal undi-undian ^_^, dari duluuuu.

Bagi saya yang biasa hanya mengandalkan bedak dan lipbalm untuk ke pesta, ini sebuah pengalaman baru yang menarik. Melihat hasilnya, saya tidak yakin akan menggunakan semua yang saya dapatkan kemarin untuk keluar rumah, tapi setidaknya saya tahu sedikit tentang caranya.

Jadi itu ide intinya: tidak selalu harus menjadikannya gaya hidup, tapi punya pengetahuan yang memadai tentang hal itu.

Belakangan saya sadar bahwa hidup saya tampaknya tidak begitu luas. Teringat seorang dosen dulu yang berkata bahwa kita harus jadi well-rounded person. Bisa menggelinding ke mana saja, meski core-nya tetap. Menjadi well-rounded person akan membuat dunia kita jadi lebih luas.

Hal lain yang saya sadari bahwa saya kadang terlalu sinis pada sesuatu, padahal hal tersebut tidak buruk. Misalnya tentang make up, tentang membuat sendiri saus tomat, tentang pergi ke salon, tentang ikut kelas aerobik, tentang shopping & fashion. Pada semua itu, saya bilang, “Ih ribet deh…. Saya mah orangnya cuek, ga segitunya, sederhana, ga macem-macem.”

Padahal suka-suka aja yah, kenapa saya jadi nyinyir mengomentari. Yang penting kan masih dalam koridor agama dan tidak berlebihan. Bahkan ibadah saja tidak boleh berlebihan, apalagi soal dandan.

“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah mereka diberitahu, seakan-akan mereka menganggap ibadah Nabi hanya sedikit, dan mereka berkata, ‘Di manakah tempat kami dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang’.

Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Saya selamanya shalat sepanjang malam’.
Yang lain berkata, ‘Saya selamanya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah berbuka’.
Yang lain lagi berkata, ‘Saya menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya’.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan berkata kepada mereka, ‘Kaliankah yang tadi berkata demikian dan demikian?
Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi saya berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur malam, dan saya juga menikah dengan perempuan. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku’.”
(Muttafaq ‘alaih)

Kembali lagi ke well rounded person. Saya seorang ibu dan guru, maka mengikuti seminar pendidikan dan parenting bukan hal aneh. Saya yang hobi menulis, lalu menghadiri workshop kepenulisan, tentu hal yang wajar.

Tapi sebagai perempuan yang ga pernah dandan, lalu mengikuti kelas tata rias, adalah interpretasi saya untuk memasuki zona lain dalam hidup.

Mungkin selanjutnya saya yang gaptek ampun-ampunan ini juga akan belajar tentang optimasi web. Saya yang tidak suka masak akan mulai membuat kue. Saya yang orang rumahan mencoba jadi backpacker. Atau saya yang buta nada ini akan belajar alat musik. Oh ya, juga satu hal lagi: belajar dagang ^ o ^.

LIVE YOUR LIFE!

ILMU PADI

Membersihkan hati dari rasa sombong itu kenapa sulit sekali yah. Bukannya ingin membuka aib sendiri, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi cermin untuk lebih jelas melihat diri sendiri.

Imho, sok tau itu salah satu tanda dari sombong, dan sombong itu benar-benar menutup pintu ilmu dan hikmah. Karena sudah merasa tau, sudah merasa pernah mengalami, jadi kalau ada yang menulis panjang atau mengirim link, sebelum baca aja udah merasa, “Ah, basi. Udah tau. Siapa yang nulis? Ampyun deh, Mak. Anak lo aja masih balita kok sok nasehatin orang.

Pas iseng baca, itupun dengan ogah-ogahan, baru deh nyadar. Oh ternyata begono yak, baru tau sayah *pentung diri sendiri*.

Itulah sebagian alasan saya sedang tidak ingin terlalu banyak bicara di beberapa grup. Bahkan ada yang leave group juga. Ya karena itu tadi, belum bisa mengendalikan diri. Ketika diskusi, terasa sekali bahwa saya ingin mengajari, bukan sharing. Terutama di grup yang mayoritas anggotanya lebih muda dari saya.

Tentu tak ada yang bisa memastikan niat seseorang yang tersimpan dalam hati, apakah untuk  mau berbagi atau show off, tapi saya tau apa yang ada di hati ini, jadi memang sebaiknya saya jujur pada diri sendiri.

Di sisi lain, sekali lagi, tak ada yang bisa memastikan niat seseorang yang tersimpan dalam hati, maka saya memang tak perlu bersibuk-sibuk meluruskan motivasi siapapun selain diri sendiri.

 

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”
Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?”
Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.
Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“
(HR. Muslim no. 91)

COOKING ISN’T MY THING

Seharusnya saya ga mensugesti diri sendiri yah, ga bisa masak, ga suka masak. Kan makin jadi aja tuh males masak. Mungkin tepatnya pake kalimat: cooking isn’t my thing, kali yah. Saya kurang bersemangat soal yang satu ini, meski teteplah masak sendiri di rumah. Bukan karena enak, tapi karena selain saya gada lagi ^_^;.

Saya sempet khawatir, gimana kalo nanti saya udah jadi nenek (mudah-mudahan umur sampai, amin….), gimana kalo lebaran cucu pada main ke rumah. Biasanya kan anak cucu pada kangen masakan nenek tuh, paling sedep deh resepnya. Lha kalo saya? Apa beli aja di restoran Padang?

Kata si Orin, nenek-nenek itu masakannya pada enak karena mereka masak sudah lamaaaaa sekali. Aih, berarti saya masih punya harapan dwong…. ^ o ^ /

Akibat punya ibu yang mendeklarasikan ‘cooking isn’t my thing‘, anak-anak saya kayaknya kurang bagus taste-nya. Kadang kalo mereka bilang, “Masakan Mama enaaaak….,” bibir ini tersenyum meski hati pilu (rada-rada berbau lirik lagu Obbie Mesakh, nih << siapa tau nama ini?). Soalnya, soalnya…. Ini kan nugget boleh beli dari minimarket, Sayang….

Berpegang pada kenyataan, saya mah ga terlalu ambil hati kalau suami atau anak-anak ga semangat makan masakan saya. Lah saya aja ga napsu makan masakan sendiri, hwahahahaha….

Tapi sebagai manager gizi keluarga -tsaaaahhh….- menyediakan makanan sehat adalah kewajiban. Jadi paling saya mengira-ngira, anak-anak sudah makan karbohidrat, protein, buah/sayur? Kalau sudah, meski ga sempurna, saya ga merasa harus memaksakan diri harus bikin ini bikin itu. Soalnya jadi stres sendiri ^_^;.

Meskipun sering gagal total kalo masak, ada satu menu yang hampir selalu berhasil: TELUR DADAR.

Ini senjata saya kalo mentok. Kalo sop atau capcay rasanya ga karuan, saya aduk aja sama telur. Ceritanya fuyunghai jadi-jadian. Bayam juga dicincang dan dijadikan dadar bayam. Tapi kalo sayur asem atau lodeh mah ga dicampur telur lah. Bukan karena kedengerannya jadi terlalu aneh, tapi jaraaang ada menu itu di rumah, hehehehe…. Saya cuma masak sop, tumis, dan sayur bening ^_^;

Ternyata kemampuan memasak itu penting yah, saya baru sadar setelah menikah dan tinggal jauh dari tanah air. Bisa juga untuk mata pencaharian, tapi memasak adalah kemampuan dasar untuk survival.

Makanya saya mau melatih anak-anak, yang laki maupun perempuan, paling nggak untuk masak nasi (saya ga bisa ngaron nih, belajar ah….), goreng lauk dan sayur sederhana.

 

SAMPE TUWEK, SAMPE NENEK…

Iwak Peyek? Hahaha, ya bukanlah, sekedar mengenang ketika bolak-balik RS karena si Sulung kena DBD.

Setelah panas tinggi dan kejang 3 kali di hari Selasa, kami datang periksa di hari Kamis. Orang tua saya sudah ngomel, “Telat sih, dibawa ke dokternya!” Lah ini justru kecepetan. Pas dibawa hari Kamis itu aja dokternya nyuruh balik lagi besok untuk tes darah, soalnya belum 72 jam, jadi sulit dipastikan demamnya karena apa. Sebenernya saya udah tau kalo mesti tunggu 72 jam, tapi panik euy!

Ketika hari Kamis periksa darah, dan diulang hari Jum’atnya (karena kurang jelas hasilnya di hari Kamis), saya melihat lagi pemandangan yang menghangatkan hati.

Ruang lab di RS Sari Asih Ciledug bersisian dengan ruang USG, rontgen, dan CT scan. Jadi ruang tunggunya disatukan. Dua kali menunggu hasil lab, saya menemukan pemandangan menarik, tiga pasangan kakek-nenek duduk menunggu hasil pemeriksaan di sana. Ya, masing-masing berdua saja, entah siapa yang sakit, tapi mereka datang berdua, bersama pasangan ‘sampe tuwek’nya itu.

Orang tua saya belum 60 tahun, mereka masih aktif di pekerjaan, jadi yang saya lihat di ruang tunggu itu mengingatkan pada mertua saya di Bandung. Semua anak cucu di Jakarta, mereka tinggal berdua saja, ke mana-mana berdua saja.

Yah, begitulah. Bertemu di saat muda, menjalani tahun demi tahun bersama, dan ketika sama-sama renta, masih setia menemani hingga akhir usia. Owh so sweeeet….

Ada cinta model drama remaja yang manis romantis, ada cinta pasangan menikah yang dewasa dan bertanggung jawab, tapi ‘cinta’ yang dimiliki para pasangan tua itu, entah bagaimana mendefinisikannya.

“Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu

Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia
Saat kaki t’lah lemah kita saling menopang

Hingga nanti di suatu pagi, salah satu dari kita mati
Sampai jumpa di kehidupan yang lain…”