TRICKY RECIPE

Waktu saya share link di FB tentang Cooking Isn’t My Thing, Mba Nyai cerita tentang salah satu episode Curious George:

Ceritanya bos-nya si Paman bertopi kuning kan profesor tuh, ibu2, ilmuwan yang sangat cerdas. Nah dia ceritanya nyoba masak, n ternyata hasilnya parah banget! dia mikir, apa siy susahnya masak? gak mungkin lebih sulit dari kerja di lab… sama2 proses kreatif. Tapi teuteup gagal.

Akhirnya dia main2 ke restoran siapa itu namanya chef italy yang kumisan n miara kucing. Dikasih tau kalo proses memasak itu bukan hanya proses kreatif, tapi juga memerlukan “kerendahan hati” untuk membuka dan mengikuti resep plek2 milik orang lain.

Akhirnya mau lah si ibu profesor itu mengikuti resep dan sukses…lalu lama2 bisa modifikasi sendiri. Saya liat episode ini jadi ngeh, keahlian memasak itu banyak perlu waktu, hasil dari studi empiris berbagai macam orang atas berbagai macam komposisi bahan dan tehnik. Bukan hanya dorongan impulsif, “saya ingin menciptakan sesuatu!” hi3.

Jadi kalo kita mau mengikuti resep, menonton orang memasak, ikut kurus memasak dan rajin memasak mungkin semua orang akan pintar masak. Itu juga kalo kepingin pintar masak tentunya…kalo gak suka memasak yo jangan dipaksa he3…kan pinter masak itu gak harus he3.

Nah, tulisan ini khusus untuk membahas komentar di atas itu. Loh? Hehehe, ga gitu deng, cuma komentar tersebut bikin saya teringat bahwa, IMHO, resep masakan itu biasanya tricky.

Misalnya gini: butuh bawang putih 2 siung, bawang merah 5 siung. Nah, yang disebut satu siung itu yang mana, secara bawang itu gedenya beda-beda. Apalagi kalo sudah masuk ke takaran garam-gula-lada. Tertulisnya: SECUKUPNYA. Hadeh, secukupnya itu kayak apa sih?

Terus kalo buku resepnya ada gambarnya, itu juga menyesatkan. Coba, kenapa tampilan masakan saya ga mirip sama gambar di bukunya? Kan bikin sutris.

Jadi meskipun ikut resep, teteup aja saya sering gagal. Maka saya punya hipotesis, bahwa kegagalan dalam memasak disebabkan oleh arahan buku resep yang menyesatkan.

Temen saya bilang, “Oh kalo gitu, ga usah ngikutin resep. Bisa jadi lebih enak loh!”

Mmmm, gimana yaaa…. Kata bisa-jadi-lebih-enak itu bermakna bisa-jadi-lebih-ga-enak juga kan?

Lagipula, saya ini sering tersesat sendiri ketika masak, tersesat yang model-model kayak “Eh, tadi lagi masak apa?”, jadi belum punya nyali untuk bereksperimen di dapur v^_^;v (malesgangaku.com).

Advertisements

ADIK KETEMU GEDE

Suatu hari, kira-kira 3 tahun yang lalu, adik saya yang pertama -saya punya 3 adik, semuanya cowok- menelefon, “Lu mo keluar, ga? Gue pinjem mobil dong.”

Saya iyakan, dan dia datang dari Kebayoran ke Ciledug untuk mengambil mobil.

“Mo ke mana, sih?” saya penasaran. Ga biasanya, gitu.

“Mau jalan sama cewek.”

Idih, jalan sama cewek aja pake minjem mobil segala. Tumbeeeen.

“Ini cewek spesial!” timpalnya.

Sekarang, cewek yang disebut spesial itu telah memberinya seorang putra lucu berusia 2,5 tahun.

Di lain kali, adik kedua menjemput saya. Waktu itu dia masih kuliah, sepeda motornya masih yang joknya nungging gitu deh. Di jalan, dia  bilang,

“Gimana yah, gue belom siap nikah (masih kuliah dan belom kerja). Tapi kalo ga (ngelamar) sekarang, takut diambil orang.”

Sekarang, gadis yang dulunya ditakutkan akan dilamar orang lain itu sudah memberinya putra usia 5 bulan.

Sebagai orang yang tidak punya adik perempuan, jadi bersyukur dapet dua adik ketemu gede. Bersyukur karena kami semua cukup dekat, dan bisa ngobrol banyak tanpa sungkan.

Btw, adik pertama saya dijodohkan, resmi lewat jalur orang tua. Yang pertama lihat si gadis adalah ibu saya, lalu orang tua saling mencari kemungkinan, baru anak-anaknya yang dipertemukan. Ternyata, perjodohan tak selalu seperti kisah Sitti Nurbaya  ^_^.

Adik kedua saya menunggu dengan cemas selama beberapa tahun, karena gadis itu tidak mau diikat dengan cara pacaran. Hingga akhirnya adik saya lulus dan bekerja hingga siap melamar, jodoh memang ga lari ke mana ^_^.

Cukup excited juga menunggu seperti apa ipar ketiga saya. Tapi kayaknya bakal lama sekali, karena si Bungsu baru kelas 2 SMP.