IKHLAS BELAJAR

Sejak 2004 hingga 2011, berarti hampir 7 tahun. Ya selama itu saya merasa tidak memiliki teman dekat seperti saat sekolah atau kuliah. Saya kesulitan berkomunikasi secara intens dengan sahabat-sahabat lama, alasannya terutama karena jarak dan kesibukan sebagai ibu rumah tangga. Saya kemudian bekerja di pertengahan 2006, tapi tetap tak berteman dengan satu pun rekan sejawat di kantor.

Sekitar tahun 2011, saya menemukan orang-orang ini. Dan akhirnya sekarang merasa punya teman dekat lagi.

Perbedaan di antara kami membuat saya banyak belajar dan banyak merenung kembali. Ada ibu bekerja di luar rumah, ada ibu rumah tangga. Ada yang hobi masak, hobi belanja, hobi nulis, hobi dagang, dan hobi gadget. Juga perbedaan keyakinan: sunni, syiah, protestan, dan perenial.

Karena kenal dengan orang-orang ini secara pribadi, saya belajar lebih banyak memahami, tak cepat menghakimi, dan berusaha melihat segala hal dengan lebih dekat. Saya mencoba membuka pikiran dan melihat dari berbagai sudut pandang. Dan yang terpenting, saya jadi menyadari bahwa sangat sedikit yang saya tau, dan karena itu, saya harus melatih diri agar tak tinggi hati.

Setelah melewati masa sekolah di lingkungan yang relatif homogen, dunia semakin luas ketika saya bertemu dengan banyak macam orang di kampus. Tapi inilah aneh dan konyolnya makhluk bernama kebodohan, yaitu bisa membuat seseorang jadi sombong dan sok tau. Itulah yang terjadi pada saya. Akibatnya, ketika kuliah tak banyak hikmah yang dapat saya ambil. Malu.

Jadi saya ingin memulai lagi: BELAJAR. Mencari kebenaran. Meski rasanya takut meninggalkan zona nyaman di mana saya tak perlu berpikir, jalani saja seperti yang dilakukan orang-orang tanpa banyak tanya. Tapi suami mengizinkan, dan teman-teman menyemangati. Kata mereka, yang penting ikhlas, yaitu murni untuk mencari Allah. Tidak seperti zaman mahasiswa dulu, diskusi untuk menang, agar dilihat sebagai orang yang progresif dan cerdas, untuk mempengaruhi orang lain, atau apalah. Kalau ikhlas, insya Allah dibimbing, ditunjukkan jalannya, dan diberi penjagaan dari kesesatan.

Diberi kesempatan bertemu dan berteman dengan bermacam-macam orang, saya berhusnudzan bahwa Allah sedang menginginkan kebaikan untuk saya.

10th ANNIVERSARY

 

Waktu itu saya ada di lantai dasar, berdiri membelakangi tangga, meneliti jadwal kuliah yang tertempel di tembok. Pengantar Mikroekonomi, Ledi Trialdi, S. E. Siapa tuh?

Sambil mengangkat bahu saya naik ke lantai dua dan masuk ruangan. Baris paling belakang, seperti biasa. Dosennya masuk, seorang lelaki berkaca mata dengan kemeja dan celana panjang hitam. Semua normal saja.

Tapi memang tidak ada yang menyangka, kalo orang itu akan jadi suami saya tak lama lagi, hanya satu setengah tahun ke depan.

Waktu dilamar, usia saya masih 20 tahun pas. Saat itu booming pernikahan dini di kampus sudah dimulai. Bagaimana saya membayangkan menjadi seorang istri di saat masih jadi mahasiswa, dengan suami dari fakultas sebelah?

Dijemput sepulang kuliah, lalu bercerita sambil tertawa berdua, sambil berpegangan menyusuri jalan setapak antara Sastra sampai halte UI. Kayak beberapa senior saya itu deh pokoknya, hihihihi…. Tentu saja, saat itu gerombol kelopak pohon kapuk di sepanjang jalan harus sudah merekah, agar bunganya yang halus putih bisa terbang melayang mengimbangi kicau burung.

Kenyataannya?

Sejak menikah, sampai sekarang, kami tidak pernah jalan bersisian dengan tangan saling menggenggam, hahahahaha….

Menurut si Akang, meski sudah menikah, tidak menunjukkan kemesraan (termasuk berpegangan tangan) di depan umum lebih dekat pada kebersihan hati, baik bagi kami dan bagi orang yang melihat. Setelah dikipir-kipir, iya juga sih. Jadi tidak masalah bagi saya untuk menghapus harapan ala sinetron itu dari kepala.

Kalo sekarang sih, ya ga mungkinlah bisa pegangan tangan. Satu dorong kereta bayi plus tas popok, satu lagi megangin dua anak yang gemar raib kalo kelewatan diliatin sekitar 30 detik. Dan itu belum termasuk plastik keresek belanjaan yaaaa.

Tapi ngomongin soal tidak romantis, doi (ya ampun, jadul banget ini kata) memang tidak romantis. Nah, justru karena itu saya jadi seneng ngegodain:

“Pak, sayang ga sama aku?”
“Yah, lumayanlah dikit.”
“Yah, kok gitu? Sayang ga?”
“Udah terlanjur sih, mau gimana lagi.”
“Sayang gaaaaaaa?’
“Bosen ah, nanyanya itu mulu.”

Hahahahaha….. Hah, sepuluh tahun. Yang dulunya sering bikin kesel dan berantem, sekarang bisa jadi bahan bercanda sampe sakit perut!

“Pak, kok ga pernah bilang ‘I love You’ sih ke aku?”
“Pernah kok, dua apa tiga kali, gitu.”

Kami ketawa sampe guling-guling. Masa sepuluh tahun nikah, bilang i love you-nya bisa keitung! Dikit banget lagi!

Ya begitulah barangkali romantis ala kami, bukan bunga, coklat, atau puisi. Waktu juga yang menghantarkan saya pada pemahaman, bahwa cinta adalah dukungan dan pengorbanan.

Dalam sebuah what-so-called ‘ikatan’, potensi saya malah tumbuh dan berkembang. Saya menemukan beberapa passion dalam hidup, dan suami saya bukan hanya mendukung, tapi terlibat di dalamnya. Ia rela tidak memiliki kendaraan dan rumah sendiri hingga sekarang, demi mendahulukan beberapa kepentingan saya. Sungguh saya tidak bisa memohon yang lebih baik dari ini.

Jadi saya bersyukur untuk 10 tahun kebelakang, dan berdoa untuk tahun-tahun selanjutnya.

By the way, saya sedang bingung mengisi status FB untuk 10th anniversary ini. Apakah memilih Maher Zain -Sepanjang Hidup- ataukah Iwan Fals -Aku Cinta Kau Saat Ini-. Akhirnya, yang terpilih adalah si Jambul Khatulistiwa.

“Alhamdulillah ya, Sesuatu banget!”

 

KARENA SEMPURNA BANYAK CARANYA

Kenyataannya:

Si Akang dosen matematika.
NEM matematika saya ngepas di angka 3.
(kalo sekarang ikut UN ga bakal lulus)

Si Akang jago hampir semua olahraga permainan.
Saya naik eskalator masih kagok sampai sekarang.

Si Akang selalu meletakkan barangnya di tempat yang sama.
Saya benar-benar acak-acakan.

Si Akang suka yang namanya ‘persiapan’.
Saya suka yang namanya ‘kelupaan’.
(yang hidup/bekerja dengan saya pasti tau kebiasaan ini)

Si Akang pinter nyanyi.
Saya buta nada.

Si Akang tipe koleris. .
Saya tipe plegmatis.

Alhamdulillah setelah bertemu dengan lelaki ini, hidup saya jadi agak teratur sekarang ^_^;

Dengan kenyataan seperti di atas, apakah saya merasa minder? Misalnya merasa kurang cerdas, kurang berbakat, atau apa gitu? Nggak tuhh….

Ambil satu sifat saya: acak-acakan. Bukan hanya barang-barang saja saya berantakan, cara saya berpikir juga acak. Tepatnya Acak-Abstrak (AA), begitu kata Quantum Learning.

Apa berotak AA adalah sebuah kekurangan? Bisa saja, tapi sekaligus juga jadi kelebihan. Orang yang otaknya bekerja secara AA katanya, katanya niiiiiih, kreatif loh….

Jadi, memang saya harus berlatih meletakkan barang pada tempatnya dan menghilangkan penyakit ‘pelupa’ saya, tapi biarlah cara bekerja otak AA saya tetap apa adanya.

Si Akang orangnya well-prepared dan well-organized. Nah, ini di orang yang otaknya bekerja secara sekuensial. Bagus sekali bukan? Tapi satu hal dari orang-orang macam ini adalah sulit fleksibel pada kondisi yang kadang tak sesuai dengan rencana.

Semua hal yang saya katakan tentang diri sendiri: bodoh dalam matematika, ga bisa olahraga, acak-acakan, buta nada, saya tuliskan dengan gembira, tanpa ada perasaan minder. Yah, kecuali pada bagian ‘pelupa’, karena kadang-kadang bisa jadi amat menyulitkan.

Sepertinya hal itu karena -pada akhirnya- saya mampu mengakui kehebatan orang lain tanpa harus menjadi minder. Di sisi lain, saya jug menerima kekurangan diri, sekaligus tau apa yang saya banggakan dari diri sendiri. Alhamdulillah.

Saya tuliskan kata ‘pada akhirnya- karena memang pada akhirnya di usia kepala tiga, barulah saya bisa mencapai titik ini, di mana saya mensyukuri bagaimana Allah menciptakan saya. Apa adanya.

Saya merasa, ketika kita mulai menerima diri apa adanya, saat itulah kita bisa mulai ‘bersinar’. Bebas dari perasaan negatif.

Si Akang sempurna, demikian juga saya. Karena sempurna itu ada banyak caranya.

500 DAYS OF SUMMER

Sudah nonton 500 Days of Summer? Di awal film saja narator sudah bilang, “This is a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story.” Ceritanya tentang Tom yang jatuh cinta pada Summer, dan cerita tentang hubungan mereka sejak hari pertama bertemu hingga hari ke-500.

Alur film ini bolak balik dari hari ke seratus sekian, lalu ke hari pertama, lalu ke hari dua ratus sekian, lalu ke hari sekian belas, terus hingga kita mampu mengumpulkan semua keping puzzlenya menjadi satu cerita utuh.

Meskipun terpesona pada poni Joseph Gordon Levitt ^_^;, tapi yang lebih saya perhatikan adalah perbedaan nuansa yang makin jelas dalam hubungan Tom dan Summer antara hari ke-1 sampai kira-kira hari ke-200an, dengan hari-hari selanjutnya. Di awal, semua asik, semua menyenangkan, tapi setelah hari ke 300, 400, kesenangan terasa berkurang, kehangatan mulai padam, meski mereka sedang bersama-sama.

Mungkin anda juga memperhatikan, 500 hari itu sama dengan 2 tahun kurang! Yeah, it’s just a movie…. Tapi 2 tahun kurang, really?

Saya jadi teringat salah satu tulisan kontak di MP – tapi lupa lagi siapa ^_^; – bahwa lamanya sebuah hubungan bisa dilihat dari bagaimana mereka makan malam berdua. Kalau yang (diusahakan) seru dan penuh canda, itu artinya baru memulai. Yang romantis suap-suapan mungkin pengantin baru. Akhirnya yang melewati 25 tahun, tanpa bicara.

Yang tanpa bicara bukan berarti tak menyenangkan, bahkan itulah kelebihannya. Bahkan tanpa bicara, sudah merasa nyaman bersama.

Hm…. Begitukah?

Kalau dipikir-pikir memang juga sih, puluhan tahun hidup bersama, semua sudah tau, sudah paham, sudah pernah dilewati, entah bagaimana mereka bisa menghindar dari rasa bosan ^_~v

Btw, saya dan suami telah melewati 10 tahun pernikahan, 12 kalau mau dihitung sejak pertama berkenalan. Apakah kami berdua masih bisa saling bilang bahwa, “Paling enak ngomong sama kamu!”?

Eh, ada yang kepingin tahu ending 500 Days of Summer? Mengejutkan, tapi silakan tonton sendiri, hehehehe…. Eh, tapi spoiler dikit boleh kali…. ^_~:

What happened? Why – why didn’t they work out?
What always happens. Life.

CINTA YANG TAK LAGI SAMA

Saat SMP saya gemar membaca puisi cinta dari kartu bermerek ‘Harvest’ dan mengoleksi lirik lagu romantis. Cinta itu begini, cinta itu begitu, katanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat SMA hingga masa kuliah, hati saya juga merasakan gejolaknya mengiringi kisah-kisah masa muda. Cinta itu begini, cinta itu begitu, rasa-rasanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat ini saya menikah 10 tahun, beranak 3. Saya pikir saya sudah mengerti tentang cinta sekarang, tapi ternyata masih juga belum. Paling hanya sepotong pemahaman, bahwa cinta saya telah berubah. Bukan hanya pada suami, juga pada anak. Cinta ini rasanya tak pernah lagi sama.

Saya selalu tergila-gila pada anak-anak saya setelah mereka dilahirkan. Ehm, mungkin tepatnya, setelah mereka dilahirkan dan masa baby blues berlalu ^_^;. Tapi ya, saya jatuh cinta setengah mati. Tak ingin berada jauh, tak pernah bosan menatap, selalu ingin bersentuhan, tak peduli waktu yang hilang ketika sedang bersama.

Tapi itu wajar bukan? Bayi amat mudah dicintai.

Tapi bagaimana mencintai anak ketika tantrum di pusat perbelanjaan yang ramai, ketika menumpahkan habis 600 ml sabun mandi ke dalam bak, ketika menolak masakan disiapkan dengan berkeringat, ketika menarik kerah baju adik bayinya hingga jatuh terduduk?

Tapi bagaimana mencintai anak menjelang ABG, ketika mulai keras kepala, ketika terus menyusuli semua perkataan kita dengan “Emang kenapa?”, ketika berkata “Tidak mau” dengan tegas bahkan sebelum kalimat kita selesai?

Sama halnya dengan jatuh cinta pada pemuda yang mengirimkan sms “Good night, sleep tight” setiap malam dan memberimu mawar ketika ulang tahun. Samakah cara mencintai dia ketika telah menikah sepuluh tahun?

Tidak bisa, tidak bisa cinta yang sama, yang berbunga-bunga dan penuh mimpi. Cinta ini harus berubah, menjadi lebih dewasa dan realistis. Cinta dengan kompromi dan toleransi.

Dan, saya masih merasa tak paham arti cinta.

Jadi teringat kata-kata seorang dosen saya di kampus dulu. Dia bilang, MAU itu lebih penting daripada CINTA. Jadi tak perlu menikah atas nama cinta. Yang penting dua-duanya MAU. Mau saling membantu menciptakan rumah yang hangat, mau saling mengingatkan untuk tetap berada di jalanNya, mau menemani sampai usia senja.  .

Hmmm, mungkin memang cinta tidak serumit yang saya kira ^_^.

SEHARUSNYA ATAU SEBISANYA?

Sebenarnya saya ga ngerti juga sih, itu komentar ditujukan pada saya atau bukan. Tapi gimana juga, terlanjur masuk ke pikiran, jadi hayo deh kita masukkan dalam hal yang bergentayangan di otak saat pas lagi bengong.

Jadi ceritanya, sekumpulan orang itu sedang bicara tentang sistem negara. Nnggg… kayaknya sih^_^;, hehehe. Saya ditag sama yang empunya status, padahal dia juga tau, saya udah ga napsu ikut-ikut pergulatan pemikiran kayak jaman mahasiswa dulu. Jadi saya nulis komentar: silakan atuh diurus, saya masih sibuk ngurus anak-anak, baik anak sendiri maupun anak didik. Yang pinter-pinter ngurusin negara, saya ngurusin yang kecil-kecil di depan mata. Jadi, semua ada yang ngurusin.

Eh, terus di bawah saya ada yang komen jaka sembung pake huruf kapital semua. Ini orang ga tau netiket atau sengaja yah? Tapi karena saya menganggapnya jaka sembung, ya saya ga pikirin. Bukan buat saya kali. Yang saya pikirin justru komen setelahnya, bahwa kalau beramal itu yang ‘seharusnya’, jangan ‘sebisanya’.

Bener bener bener, kata ‘sebisanya’ ini emang empuk banget dijadikan alasan. Belum nutup aurat, sebab bisanya baru berpakaian sopan. Solat masih bolong-bolong, karena bisanya baru segini. Dan seterusnya…

Tapi namanya orang, saya pasti ngeyel kalo dibilangin, ga rela pendapat saya dipatahkan begitu saja. Jadi kesel deh, hohohoho…. Kalo kesel, saya ga bales komen (udah baca tulisan saya sebelumnya tentang Si Baik Hati?), tapi misuh-misuh sendiri di blog.

Eeeee…. bukan karena saya ga mau jadi asertif yah (padahal emang ^_~v), tapi karena saya emang lola alias loadingnya lama. Kalo ada masalah , prosesornya a cemerlang untuk segera mengeluarkan solusi cerdas.

Saya ini homeschooler mom, dengan 3 anak yang hampir 24 jam selalu di rumah. Untuk bekerja saja sebenernya keberatan, tapi masih dibisa-bisain karena satu dan lain hal. IMHO, ibu idealnya selalu di rumah. ditambah ngurusi ratusan anak di sekolah, kayaknya udah refot. So, i’m not that good, Boss. Ga bisa kayaknya ngurus anak-anak, sekaligus ngurus sistem negara juga.

Tapi tapi tapi, mungkin ada orang-orang yang bisa, gitu loh. Dan acung jempol untuk mereka yang aktif di partai atau pergerakan. Barangkali suatu hari mungkin saya juga diberi kesempatan itu, karena yah, semakin tinggi jabatan, semkin sedikit krentilan-krentilan yang diurus, bukan? Jadi mungkin saja nanti saya juga akan ikutan berjuang di tataran yang lebih global, amiiin….

Nah, apa sekarang saya tidak melakukan yang seharusnya? Hiks, sedih aja kalo ada yang bilang kayak gitu. Saya (berusaha) mendidik anak-anak sendiri supaya jadi muslim yang kuat. Saya (berusaha) memberi kontribusi pada beberapa ratus anak bangsa, ikut berupaya bersama elemen bangsa yang lain, agar mereka bukan cuma menghapal tapi juga menghidupkan agama mereka, agar mereka berkembang jiwanya dan akalnya, agar mereka ga pacaran kebablasan, ga mendekati narkoba dan miras, juga agar mereka tau tau ada kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat dibanding ngerokok dan nonton video porno.

Yang saya lakukan tidak besar, masih banyak kekurangan, tapi saya merasa sudah melakukan yang seharusnya.

Tentu saja, sebisa saya.

SI BAIK HATI

Beberapa waktu yang lalu, si Akang nganter saya ke pasar Rembang, ga jauh dari perempatan Ciledug. Pas saya kembali, dia nanya, “Kok lama?”

Jadi saya cerita kalau tadi si ibu penjual mendahulukan beberapa pembeli dibanding saya, karena belanjaan mereka sedikit, sedang saya sekarung (ahahaha, lebay….) karena untuk keperluan seminggu.

“Kenapa ga protes?”

“Protes, kok,” jawab saya.

“Kok bisa tetep lama?”

“Soalnya baru berani protes setelah diselak 4 orang…”

Dinar mana Dinar? Dia pasti tepok jidat kalo tau saya ga berani protes meski diselak 4 orang pembeli, hehehehe…. Secara ya, Dinar tuh jagoan banget soal meluruskan apa yang salah. Pernah di angkot ada bapak-bapak yang ngerokok, Dinar dengan manis dan santai minta agar bapak itu mematikan rokok. Si bapak itu langsung aja nurut. Kalau bahasa kerennya, asertif!

Btw, kemarin lagi bahas materi bimbingan konseling yang disusun Fahru bareng mentor-mentor pengembangan diri, ternyata sikap asertif itu bagian dari materi yang harus dilatihkan ke siswa, tepatnya ada di materi kelas XI. Coba tebak, asertif itu bahasa Indonesianya apa? LUGU! Semua pada bingung, kok artinya ‘lugu’ sih? Kata Fahru, emang dari ‘sono’nya, alias memang dalam kurikulum BK, assertive diterjemahkan jadi lugu. Berarti lugu punya dua arti, assertive dan naive, gitu kali yah….

Berarti tuh ya, saya memang ga asertif (tapi percayalah, saya itu masih LUGU!). Kalau saya di minimarket, terus diselak sama orang, saya selalu ragu mau protes. Kalo ada supir taksi yang bawa saya muter-muter¬† supaya argonya tinggi, saya juga diem aja. Paling setelah turun dan taksinya lewat baru deh misuh-misuh. Kalo dipalakin sama birokrat, yang kena keselnya malah suami, hehehehe….

Kelihatannya saya memang berhati amaaaat baik, sungkan menyinggung orang lain ^_^;. Anehnya, sama anak sendiri (anak kandung maupun anak didik) kok bisa jutek tanpa beban? @~@; Ternyata berhati baik dan pengecut bedanya bisa tipis-tipis gini…

Malah kalo si Akang udah mulai diskusi sama temen-temennya di facebook atau milis, saya yang khawatir. “Udah atuh, Kaaaang…. Jangan dijawab lagi!” Sebagai seorang phlegmatic yang cinta damai, saya khawatir hubungan dia dan temen-temennya jadi ga enak atau gimana. Soalnya dia tuh diskusi gaya ‘cowo’ banget. Langsung to the point, ga pakai pemanis kata atau beramah-ramah gitu.

Dia bilang, “Selama tidak merendahkan orang lain, ide selalu bisa diperdebatkan. Meski akhirnya ga bakal sepakat, tapi diskusi bikin kita semua jadi mikir.” Tujuan diskusi bukannya kemenangan untuk pendapat kita, tapi pencarian bagi semua orang.

Mungkin memang gapapa untuk berbeda pendapat.

Mungkin saya harus berlatih jadi lebih asertif.