10th ANNIVERSARY

 

Waktu itu saya ada di lantai dasar, berdiri membelakangi tangga, meneliti jadwal kuliah yang tertempel di tembok. Pengantar Mikroekonomi, Ledi Trialdi, S. E. Siapa tuh?

Sambil mengangkat bahu saya naik ke lantai dua dan masuk ruangan. Baris paling belakang, seperti biasa. Dosennya masuk, seorang lelaki berkaca mata dengan kemeja dan celana panjang hitam. Semua normal saja.

Tapi memang tidak ada yang menyangka, kalo orang itu akan jadi suami saya tak lama lagi, hanya satu setengah tahun ke depan.

Waktu dilamar, usia saya masih 20 tahun pas. Saat itu booming pernikahan dini di kampus sudah dimulai. Bagaimana saya membayangkan menjadi seorang istri di saat masih jadi mahasiswa, dengan suami dari fakultas sebelah?

Dijemput sepulang kuliah, lalu bercerita sambil tertawa berdua, sambil berpegangan menyusuri jalan setapak antara Sastra sampai halte UI. Kayak beberapa senior saya itu deh pokoknya, hihihihi…. Tentu saja, saat itu gerombol kelopak pohon kapuk di sepanjang jalan harus sudah merekah, agar bunganya yang halus putih bisa terbang melayang mengimbangi kicau burung.

Kenyataannya?

Sejak menikah, sampai sekarang, kami tidak pernah jalan bersisian dengan tangan saling menggenggam, hahahahaha….

Menurut si Akang, meski sudah menikah, tidak menunjukkan kemesraan (termasuk berpegangan tangan) di depan umum lebih dekat pada kebersihan hati, baik bagi kami dan bagi orang yang melihat. Setelah dikipir-kipir, iya juga sih. Jadi tidak masalah bagi saya untuk menghapus harapan ala sinetron itu dari kepala.

Kalo sekarang sih, ya ga mungkinlah bisa pegangan tangan. Satu dorong kereta bayi plus tas popok, satu lagi megangin dua anak yang gemar raib kalo kelewatan diliatin sekitar 30 detik. Dan itu belum termasuk plastik keresek belanjaan yaaaa.

Tapi ngomongin soal tidak romantis, doi (ya ampun, jadul banget ini kata) memang tidak romantis. Nah, justru karena itu saya jadi seneng ngegodain:

“Pak, sayang ga sama aku?”
“Yah, lumayanlah dikit.”
“Yah, kok gitu? Sayang ga?”
“Udah terlanjur sih, mau gimana lagi.”
“Sayang gaaaaaaa?’
“Bosen ah, nanyanya itu mulu.”

Hahahahaha….. Hah, sepuluh tahun. Yang dulunya sering bikin kesel dan berantem, sekarang bisa jadi bahan bercanda sampe sakit perut!

“Pak, kok ga pernah bilang ‘I love You’ sih ke aku?”
“Pernah kok, dua apa tiga kali, gitu.”

Kami ketawa sampe guling-guling. Masa sepuluh tahun nikah, bilang i love you-nya bisa keitung! Dikit banget lagi!

Ya begitulah barangkali romantis ala kami, bukan bunga, coklat, atau puisi. Waktu juga yang menghantarkan saya pada pemahaman, bahwa cinta adalah dukungan dan pengorbanan.

Dalam sebuah what-so-called ‘ikatan’, potensi saya malah tumbuh dan berkembang. Saya menemukan beberapa passion dalam hidup, dan suami saya bukan hanya mendukung, tapi terlibat di dalamnya. Ia rela tidak memiliki kendaraan dan rumah sendiri hingga sekarang, demi mendahulukan beberapa kepentingan saya. Sungguh saya tidak bisa memohon yang lebih baik dari ini.

Jadi saya bersyukur untuk 10 tahun kebelakang, dan berdoa untuk tahun-tahun selanjutnya.

By the way, saya sedang bingung mengisi status FB untuk 10th anniversary ini. Apakah memilih Maher Zain -Sepanjang Hidup- ataukah Iwan Fals -Aku Cinta Kau Saat Ini-. Akhirnya, yang terpilih adalah si Jambul Khatulistiwa.

“Alhamdulillah ya, Sesuatu banget!”

 

Advertisements

One thought on “10th ANNIVERSARY

  1. Yayu says:

    Barakallah Teh Irma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s