BYE BYE SHOES

Sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan, tapi karena sekarang sudah tahu, jadi harus mengambil keputusan. Bukan sayang barangnya sih, tapi duitnya. Keingetan aja waktu bayar, saya yang waktu itu sudah berdiri di depan kasir sampai harus panggil suami karena uang di kartu debit ternyata ga cukup. Tapi sekarang memang saya harus rela melepasnya.

shoes2Saya sendiri bukan penggemar sepatu, jadi hanya punya 5 sepatu di rumah *siap dijitak*. Etapikaaan… saya ga punya sendal samsek, jadi that’s all I have.¬† Masih dianggap kebanyakan? Yah, kan saya agak-agak colour freak (ini istilah bikin sendiri), jadi beraaaat rasanya pake sepatu hitam kalau sedang pakai rok coklat.

Kenyataannya saya memang perlu sepatu yang kuat untuk naik turun angkot, kena panas hujan badai cetar membahana halilintar ulala terpampang, tapi cukup formal untuk mengajar dan rapat kedinasan. Makanya beli yang agak mahal tapi terbukti kuat.

Tapi begitu ada kabar bahwa beberapa sepatu menggunakan kulit babi, langsung ngacir ngecek lemari sepatu. Ternyata dari 5 sepatu yang saya punya, 3 di antaranya termasuk merek yang dicurigai.

Jangan panik, googling dulu yah. Benarkah ga boleh? Gimana pendapat para ulama soal ini? Apa kata produsen sepatunya? Untuk lengkapnya silakan cek sendiri, tapi kesimpulan yang ditangkap oleh IQ ‘melati’ saya adalah sebagai berikut:

1. Jumhur mengatakan tidak boleh menggunakan kulit babi/anjing untuk pakaian. Berarti ada juga yang membolehkan.

2. Tidak semua produk dari merek tersebut menggunakan bahan baku kulit babi (yang memang lebih lembut, empuk, dan menyerap keringat). Harus periksa satu persatu.

Jadi mulailah semua sepatu saya diperiksa dengan petunjuk yang ada. Dari 3 sepatu yang dicurigai, ada 2 yang harus direlakan pergi. Hiks…. Tapi untung saja saya ga pake tas/dompet/jaket kulit.

Masalah berikutnya, harus diapain? Dikasih tetangga kan ga mungkin. Jadi selama beberapa hari itu sepatu dipandang-pandangi aja. Sampai akhirnya saya ketemu Dinar dan cerita-cerita tentang sepatu itu. Alhamdulillah Dinar punya solusi biar sepatu itu ga mubazir dibuang begitu saja.

Kenapa sih harus segitunya, padahal hanya sepatu aja, bukan membunuh orang atau korupsi. Apalagi ada ulama yang memperbolehkan pakai kulit apa saja asal sudah disamak.

Benar. Tapi menurut Quraish Shihab, agama itu pada akhirnya soal hati. Saya telah baca perbagai pendapat yang ada, lalu pilih yang mana? Maka pilihan jatuh pada yang menenangkan hati saya. Mudah-mudahan Allah ridha.

So, bye bye shoes. I let you go, for my peace ^_^d

shoes

Advertisements

GREAT APPETITE

Si Akang ga suka kalau saya cuma pesan soto tanpa nasi atau hanya salad  saja di restoran.

Dia ga suka kalo orang berperut dan berselera besar kayak saya sok-sokan pesan makanan setengah porsi.

Dia ga suka kalau saya tidak ikut makan pecel lele dengan alasan menghindari gorengan.

Dia ga suka kalo saya melewatkan makan malam supaya agak kurusan.

Dia bilang, yang kayak gitu mengganggu selera semua orang yang makan bersama saya.

Well, I think he like woman with good appetite.

Eh, jadi ingat salah satu drama Korea yang saya tonton belum beberapa waktuyang lalu. Ceritanya ada seorang wanita karir sukses yang harus belajar jadi wanita supaya dapat jodoh (#NP: “Wanita dijajah pria sejak dulu kalaaa…”). Salah satu poin yang dipelajari adalah: Makanlah dengan bersemangat. Lelaki tidak suka melihat wanita yang enggan pada makanan yang dipilihnya sendiri. Kira-kira begitulah salah satu kebijaksanaan pemikat lelaki ini. Meski jadi aneh karena pasa saat bersamaan, lelaki juga menginginkan wanita tampil langsing.

Jadi begitulah yang terjadi semalam, sepiring pempek hangat berminyak, dengan cuko tabur mentimun dan ebi. Seperti biasa, saya protes (dengan wajah yang kentara bener mupeng) kalo makan gorengan jam segini bisa bikin saya tambah melar. Dan juga seperti biasa, si Akang menjawab santhayyy…. “Udah terlanjur!”

BON APPETITE!!!

image