JELAS BEDANYA

Sekarang saya bisa merasakan dengan lebih jelas, sungguh soulmate itu ada. Parameternya adalah seberapa mudah saya menjadi diri sendiri saat bersamanya.

Hingga sampai belum lama ini, saya masih memaksakan diri. Saya menggunakan gaya bicara mereka, gaya canda mereka, gaya berpakaian mereka, agar saya bisa fit in, bisa membaur, bisa diterima. Dan rasanya tidak nyaman.

Sampai saya bisa membedakan dengan lebih jelas, bahwa ada orang-orang yang membuat saya nyaman dengan diri saya. Saya tidak perlu jadi orang yang lebih asik – lebih pintar – lebih gaul – lebih kaya untuk bisa jadi bagian dari mereka. Saya bahkan tidak merasa harus menyesuaikan apapun. Karena mereka orang-orang yang membuat saya nyaman jadi diri sendiri.

Advertisements

BUKAN CENGENG

Dulu saya terkagum-kagum oleh watak para kolerik. Tegas dan to the point. Sebaliknya saya menganggap diri saya rendah karena tidak punya sifat seperti itu. Saya tak bisa cepat ambil keputusan dan kadang plin plan karena khawatir menyakiti perasaan orang.

Mungkin saya memang slow learner, karena perlu lebih dari 30 tahun untuk menyadari bahwa saya sama berharganya bagi organisasi apapun -keluarga, pekerjaan, lingkungan- di banding orang kolerik. I’M DIFFERENT, BUT NOT LESS.

Dulu saya malu karena cepat sekali menangis. Sekarang saya menghargai tiap tangisan saya sebagai anugerah, karena ternyata Allah telah memberi hati yang lembut. Dulu saya malu karena dianggap tidak bisa tegas. Sekarang saya mengerti bahwa Allah mengaruniakan saya apa yang disebut empati.

Orang boleh tidak setuju dengan pendapat saya, menganggap saya lembek dan lamban bertindak. Tapi saya tidak malu. Saya tahu bahwa saya penyeimbang dalam organisasi, penyeimbang bagi kerasnya sifat kolerik, juga bagi impulsif-nya orang sanguin.

Dan jika saya saya menangis, bukan berarti saya cengeng atau lemah. Menangis adalah salah satu jenis ekspresi saya, seperti marah bagi orang lain. Sedang yang disebut cengeng adalah berhenti berusaha, lari dari masalah, dan bergantung pada orang lain.

pleghm