PUASA SOCMED

Sabtu lalu, rasa itu datang lagi. Rasa tidak enak di hati, mungkin campuran dari rasa bersalah dan rasa sebal karena kehilangan kontrol atas diri sendiri. Maka saya kembali puasa dari jejaring sosial.

Sebelumnya Gita sudah pernah bicara tentang ini pada saya. Sejak dia ganti ponsel ke smartphone, betapa jejaring sosial ada di ujung jempol. Terlalu mudah dicapai, dan menyebabkan hidup (pekerjaan, anak, suami, ibadah) jadi banyak terganggu. Saat itu saya cuma mengangguk-angguk, tapi baru sekarang saya paham benar.

Sekali pernah saya menghapus aplikasi facebook, twitter dan whatsapp dari ponsel. Malam itu saya sedang berada di kamar dan berceloteh di twitter, lalu saya menyadari bahwa belakangan ini jika saya memiliki ide di kepala, saya langsung membuka twitter, atau facebook, atau whatsapp. Padahal ada suami saya ada di ruang sebelah.

Kenapa saya lebih nyaman bicara pada orang lain dibanding dengan suami sendiri? Orang lain mungkin menganggap hal itu tidak masalah, tapi itu bukan yang saya inginkan. Saya selalu berharap bahwa suami adalah orang yang pertama dan selalu paling asyik untuk diajak bicara, begitupula sebaliknya. Saya kecewa, pada diri sendiri, dan merasa harus puasa socmed, sampai merasa hidup saya seimbang lagi.

Belakangan, saya memasang aplikasi whatsapp lagi untuk mempermudah komunikasi, sambil berjanji akan mengontrol diri lebih baik.

Tapi ternyata terjadi lagi.

Saya sendiri sudah membatasi banyak informasi masuk. Yang tampil di wall dan timeline saya sedapat mungkin hanya teman-teman ‘sunggguhan’, siswa dan kolega, atau orang-orang yang membawa inspirasi. Tapi masalahnya, saya ternyata belum bisa mengontrol diri saya.

Status yang ‘salah’, komentar yang ‘salah’, yang meskipun bisa saya hapus, tapi sudah terlanjur terbaca oleh banyak orang. Yang membuktikan bahwa saya bukan hanya bermulut besar dan tidak sensitif, tapi juga tidak berpikir panjang.

Saya harus minta maaf, pada Allah karena lagi-lagi tergelinir, pada teman-teman yang tersakiti oleh kalimat-kalimat saya, juga pada diri sendiri, karena belum bisa jadi pribadi yang saya sendiri harapkan.

Setelah dua hari (ampun, masa’ cuma puasa 2 hari?) tanpa socmed, saya tadi kembali membuka socmed untuk memberitakan pendapat dan kabar saya pada dunia. Tap ternyata saya masih merasakan nyeri, entah karena apa.

Tapi sepertinya andalebih baik mengabaikan saja apa yang saya tulis. Ini mungkin hanya akibat hormon saja, yang timbul bersama jerawat akibat #PMS.

Advertisements

JINGGA

Ketika saya sedang galau beberapa waktu yang lalu, Gita meminjamkan saya buku ini. Dana ada beberapa hal menarik setelah menuntaskannya.

Image

Pertama, makin mupeng aja pengen travelling. Kapan ya, kapan ya, kapan yaaaa…. Kalo cuma ngiler dan berandai-andai, memang ga bisa terwujud sih ^_^;

Kedua, bagaimana mungkin, coba? Bagaimana mungkin saya baru ngeh (ngeh doang, ga sampe ngerti) tentang perbedaan filsafat Socrates dengan muridnya Plato, pengaruhnya pada Renaissance, sekaligus memahami makna Kanz Makhfiyy dan ‘kerinduan suling’ milik Rumi, justru ketika baca buku travelling ini.

Dulu saya ngapain aja sih pas kuliah? Kenapa bisa kaga paham sama sekali tentang hal-hal tersebut, padahal semuanya ada di 3 mata kuliah filsafat wajib fakultas, dan 2 mata kuliah sastra islam wajib jurusan. Payah =_=’.

Dan terakhir, saya bersyukur saya tidak segalau penulis buku tersebut. Yah, ada suami dan tiga anak yang mesti didampigi, pekerjaan yang harus diurus, maka syukurlah saya tidak mengalami guncangan sebesar itu, guncangan yang membuat seseorang tak bisa mundur lagi. Saya membayangkan bagaimana rasanya, diliputi banyak ketidakmengertian, namun ada rindu yang sangat, belum lagi ketidakpahaman orang-orang di sekitar pada apa yang kita jalani.

Tapi saya merasa bahwa begitulah attitude seharusnya. Setelah lulus dari fakultas sastra yang mewajibkan saya mengikuti kuliah-kuliah filsafat dan sufisme yang sama sekali tidak saya mengerti itu, yang  membuat mahasiswanya jumawa karena merasa mengetahui inti dari kebenaran, yang menggunakan bahasa-bahasa susah agar terlihat intelek, saya baru merasa  sekarang ini bahwa ketundukanhatilah yang nihil dari saya saat itu. Karena hanya yang bening yang bisa memantulkan Cahaya.

Semua dialektika itu, obrolan di Kansas dan pojokan Gedung X itu, apakah merupakan pencarian, atau malah pameran pengetahuan? Jalan setapak pada Dia yang dirindu, atau sekedar kegenitan intelektual? Apakah untukNya, atau yang selainNya?

Maka saya menghormati teman-teman pemberani yang menyusuri jalan pencarian ini hanya karenaNya, yang menundukkan hati, yang hatinya perih merindu Al-Haqq. Yang bingung, yang tak mengerti, tapi ikhlash. Karena ikhlash adalah memurnikan motivasi dari selainNya.

path

Tapi sedari dulu, saya memang orang yang shallow kok. Dangkal, ga ‘dalem’ gitu deh. Demen banget belanja, ga paham kalo baca buku-buku serius, ga nyambung tiap diajak mikir yang berat,  nonton film/drama hanya karena pemainnya cakep, dan ngeblog demi eksis di socmed. Mungkin itu sebabnya kegalauan tidak membuat saya jatuh bangun mencari. Cukup dengan baca dikit-dikit, merenung dikit-dikit, terus puas dah, hehehehe…

Sebagai penutup, saya ingin bilang, “Tengkyu tengkyu tengkyuuu, Gitaaaa… ❤ ❤ <3”

 

“Kau tahu, Nak, hanya orang2 munafiklah yang sibuk mempertentangkan sesuatu; memperdebatkan hal yang sudah jelas; mengarang pertanyaan atas hal yang tidak perlu dipertanyakan atau dikomentari lagi, dan mencari2 alasan atas nasehat yang sudah terang benderang. Menyenangkan memang melakukannya. Bersilat lidah. Bicara seolah pintar sekali tapi kosong. Tapi lama-lama kau akan kehilangan pintu hati yang lapang menerima nasehat. Cam-kan itu baik-baik.” -tereliye-