ONCE UPON A TIME….

Once upon a time in our home….

Saya: Udah sampe mana?
Dia: Di jalan.
Saya: Bawa makanan ga? Kalo ga bawa, gue masak, nih! *ngancem*
Dia: Oke, oke. Gue bawa makanan.

Di hari lain, dia sedang dalam perjalanan pulang dari bandara, dan saya ingin jadi istri yang baik yang menghidangkan masakan buatan sendiri saat suami pulang dinas luar kota. Tapiiii….

Dia: Ada apaan, sih? *sambil masuk rumah yang penuh asap dan bau hangus*
Saya: Gue masak.
Dia: Terus?
Saya: Gosong. *nyengir*
Dia: Lagian pake masak segala…. *ngeloyor*

\(^o^)/

LAGI NYESEK?

Mmm….. khawatir salah persepsi nih.

Saya bukan mau bilang, “Ayo pada resign!”, karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.

Tapi memang benar, ada masa ketika saya ‘nyesek’ ngeliat rekan sejawat berkesempatan meningkatkan profesionalisme, ketika ada teman mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri, atau ketika teman memajang hasil crafting yang unyu, sementara saya cuma bisa ngiler karena ada 3 anak yang masih kecil dan tidak ada yang bisa dititipi.

Lalu sepuluh tahun berlalu, yang bungsu sudah mulai mandiri, yang tengah sudah tak perlu diawasi, yang sulung sudah bisa menjaga adik-adiknya. Dengan mengompromikan jadwal dengan suami, saya bisa ikut kelas crafting sesekali, datang ke beberapa acara workshop dan seminar kependidikan, juga mulai mengambil tantangan baru dalam pekerjaan.

Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah….

SUNGKAN BEROPINI

Baca berita dan opini di socmed, kadang saya angguk kadang mengernyit, kadang setuju sering juga nggak, tapi selalu sungkan untuk bicara hal yang -imho- tidak saya pahami.

Tapi suami saya berbeda. Jika punya opini, dia akan bicara saja. Dia bilang, kalau benar, maka kita menyebarkan kebenaran. Kalau salah, maka berbicara adalah kesempatan untuk mendapat koreksi.