BANDROLNYA GA DILEPAS

Tas cewek itu ribet, rempong modelnya tapi dikit muatnya? Emang, tapi saya sukanya tas model cewek.

Sepatu cewek itu ribet, haknya tinggi, kalo dipake lama2 bikin pegel, ga bisa jalan cepet, dan gampang rusak? Emang, tapi saya sukanya sepatu model cewek.

Pokoknya, saya suka yang ribet-ribet dah.

Tapi saya ga gitu suka beli alas kaki. Jadi biasanya nabung untuk beli sepatu/sandal yang rada mihil tapi terbukti kuat, dan bertahun-tahun ga ganti-ganti.

Kalo tas, saya udah lamaaaaa banget ga beli. Biasanya kalau datang ke rumah ibu saya, saya periksain barang-barang beliau, “Ada yang baru ga, Mah?”

Ibu saya jualan baju, dan penjelajah Tanah Abang. Jadi soal segala yang up to date dalam mazhab Tenabang, dia tau lebih dulu. Tapi karena aliran mode saya rada beda, banyak barang yang cuma bisa saya kagumi, tapi ga bisa saya pake. Make’nya ga sampai hati, hwahahah…..

Nah, di rumah ibu saya ini kadang ada aja tas yang lumayan. Parfum ori juga. Biasanya tas/parfum itu hadiah dari kolega. Ibu saya nyuruh saya ambil parfumnya, karena ibu saya ga demen parfum yang baunya ‘adem’. Saya ga suka parfum, jadi cuma saya liatin tasnya aja.

Kisaran harga tas-tas di rumah ibu saya sekitar 500ribu-1juta, mihil hil hil buat saya. Ibu saya bilang, ini gope, ini delapan ratus, dst. “Kok tau harganya, Mah?” tanya saya. Soalnya ini hadiah, dan ibu saya ga demen pake apalagi beli tas mahal. Menurutnya tas mahal itu berat, jadi dia lebih suka tas lima puluh ribuan aja. Makanya saya penasaran ia tau dari mana harganya.

Ibu saya jawab, “Pas dikasih, bandrolnya ga dilepas sama yang ngasih.”

Hwahahaha….

MUSIM PEMILU

Jiah, nulis soal politik? Hahaha…. mana paham, saya.

Tapi teringat sekitar tahun 2004. Saat itu saya baru saja kembali dari Jepang, dengan semangat belajar agama yang sedang berkobar. Maklum, merasakan jadi minoritas di negeri seberang. Saya ikut mengaji di sebuah lingkaran berisi ibu-ibu muda, di sebuah rumah tak berapa jauh dari rumah. Saya tau afiliasi politik pengajian ini, dan itu bukan masalah. Saya tertarik dengan metode dan tujuan besarnya, bukan partainya.

Lalu datang masa…. bagaimana saya mengistilahkannya, kampanye terbuka? Ketika nama salah satu partai secara eksplisit disebut sebagai materi pengajian. Dan pertanyaan mulai merubung kepala saya. Tapi saya tidak bilang pada siapa-siapa kecuali suami.

Suatu hari, sendirian, saya datang ke guru ngaji saya, mempertanyakan satu hal sederhana, “Apakah kalau belajar agama di sini, jadi wajib memilih partai itu?”

Reaksinya agak mengejutkan. Setelah itu, saya tidak lagi bertemu teman-teman sepengajian saya yang dulu, dan itu bukan atas kehendak saya.

Patah hati, saya pergi ke Depok, ke tempat mentor yang pertama mengajak saya duduk melingkar mengkaji ilmu dengan metode ini ketika masih jadi mahasiswa baru. Sambil menangis saya bertanya, apa salah saya. Dia menjawab panjang lebar semua yang jadi unek-unek di hati saya, dan berkata bahwa kadang penafsiran seseorang terhadap suatu prinsip sangat mungkin berbeda, dan bukan berarti pengajian atau partainya yang salah.

Oke, saya mengerti. Tapi tampaknya rasa ditolak/tidak diinginkan cukup berat buat saya. Sejak saat itu saya golput.

Baiklah. itu hanya soal politik. Sejak itu saya tetap mengaji di tempat lain hingga beberapa lama, berniat hanya untuk mencari ilmu agama. Tapi lalu tak berlanjut. Seperti yang sebelumnya, tak ada kabar, tak ada informasi.

Selesai.

REWEL

Seorang ibu mencoba menenangkan balitanya yang rewel si dalam angkot yang panas dan jalanan yang macet. Kasihan, tapi bingung bagaimana saya bisa membantu. Akhirnya saya tersenyum pada ibunya, untuk memberi tau kalau saya tidak keberatan sepatu anaknya menendang-nendang dan mengotori celana putih saya.

Saya pernah mengalami hal yang persis sama waktu anak2 kecil dulu, dan seorang ibu setengah baya marah karena terciprat sedikit air putih dari botol minum yang saya pegang sambil memegang bayi yang sedang rewel dan menenangkan dua kakaknya.

Tiap orang harusnya mempermudah tiap kondisi untuk ibu dengan bayi/balita. Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia.

TRYING TO FIGURE IT OUT

Saya ini lahir ga cakep2 amat, ga pinter2 amat, ga kaya2 amat, ga hebat2 amat, ga beda2 amat. Tapi seharusnya Allah telah menyediakan bagi orang biasa2 seperti saya ini satu tempat dalam kehidupan, di mana saya berharga bagi beberapa orang; dicintai dan bermanfaat. Dan sepanjang hidup, saya akan terus dan masih mencari tempat yang Allah sediakan untuk saya itu.
Selain itu, karena Allah sayaaaaang sama saya, saya percaya 100% Dia telah menciptakan beberapa orang di kehidupan ini, di mana potongan jiwa mereka pas dipasangkan dengan jiwa saya; pasangan hidup, keluarga, sahabat. Dan sepanjang hidup, saya akan dan masih terus mencari orang2 yang Allah ciptakan untuk saya itu.