MARAH

Kemarin kegiatan agak padat, ditambah kehujanan di Cidodol, jadi pagi ini saya bangun dengan sakit kepala. Tapi jam 7 harus sudah ada di Senayan. Ketika sampai di rumah, kepala masih cenat cenut, sementara rumah berantakan dan belum ada makan siang. Jadilah saya masuk ke ‘senggol bacok mode’.

Dan ketika beneran ada yang nyenggol, saya marah.

Apakah ibu tak boleh marah? Beragam teori parenting kadang bener2 bikin stres orang seperti saya, merasa bahwa setalah 13 tahun jadi ibu, sepertinya saya belum juga jadi ibu yang baik.

Jadi saya marah. Saya bilang saya kesal, dan saya utarakan apa yang membuat saya kesal. Apakah saya melakukannya dengan tenang? Tentu saja tidak. Kata2 saya tajam, dan ekspresi kemarahan saya terlihat jelas.

Tentu saja seperti semua orang, saya punya batasan ketika marah. Sedapat mungkin tidak berteriak, tidak merusak, tidak menyakiti fisik, dan tidak merendahkan orang lain. Meski jujur saja, saya masih sering melewati batasan yang saya buat itu.

Tapi tidak, saya tidak merasa bersalah karena saya marah. Saya tidak merasa bersalah karena menjadi manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s