… trying to figure it out

‚Äč#1

Setiap Senin di masjid sekolah kami ada pengajian untuk ibu2 di lingkungan sekitar. Tempo hari saya memperhatikan sejenak para ibu sederhana yang sedang mengeja kitab suci dan maknanya dibimbing ibu ustazah.

Lalu saya merasa malu. Betapa saya ini terlalu banyak gaya dalam beragama. 

Islam itu berserah diri. Menjadi muslim artinya menjadi yang berserah diri. Berserah terhadap apa yang Dia perintahkan dan larang. Berserah, tanpa teori dan logika yang berbelit, tanpa protes sana sini tak henti2.

Tanpa keberserahan diri, apakah muslim masih bisa dibilang muslim?

#2

Mungkin beberapa teman kasihan pada saya, karena saya telah tertipu.

Agama itu candu. Candu agar rakyat bisa banting tulang dengan bahagia, menunggu balasan nanti di surga, sementara para kapitalis mengeruk kekayaan sebanyak2nya dari mereka. Dan candu itu disebarkan oleh para pemuka agama, partner in crime para pemilik modal.

Kalimat di atas terasa tidak asing, karena pernah dirapalkan oleh mulut saya sendiri beberapa tahun lampau. Tahun2 ketika saya tidak bisa membedakan antara omong besar dengan logika.

Bicara soal ketertipuan, bagaimana kita bisa yakin bahwa yang tertipu itu saya, dan bukan anda? Tidak ada yang bisa memastikan, bukan?

Maka kalimat *tertipu* dan *tercerahkan* menjadi begitu relatif.

#3

STRUGGLE TO SURRENDER.

Itu judul buku Jeffrey Lang, tapi menggambarkan secara tepat diri saya. I am struggling to surrender. 

Betapa berserah diri, yakni menjadi muslimah, masih menjadi perjuangan berat bagi saya. Mengalahkan nafsu dan pikiran yang tersesat, untuk secara lapang dan rela menerima Islam dalam jiwa saya. Hingga detik ini pun masih belum selesai.

Saya percaya cahaya akan datang pada hati2 yang tunduk dan merendah. Saya berdoa agar Dia tak meninggalkan saya dalam kebingungan.

###

Advertisements