JENIUS

Beberapa hari yang lalu Dhiya Fissilmie nonton Genius with Stephen Hawkings di NatGeo, episode Are We Alone.

Acaranya menarik karena di situ ditampilkan 3 relawan yang bukan ilmuwan dan tidak belajar tentang fisika dan astronomi. Mereka diberi barang2 sebagai model dari alam raya dan sedikit informasi sebagai pemicu, lalu dibiarkan mencari penjelasan sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Hasilnya, mereka menemukan sendiri teori2 yang ditemukan para fisikawan dan astronomer. Hal ini, menurut Stephen Hawkings, adalah bukti bahwa orang2 jenius itu ada di mana2. Dan banyak sekali jumlahnya.

Kesimpulan Dhifie adalah: “Kita bisa jadi jenius, jika kita mau.”

‘Jika kita MAU’, saya manggut2 karena terjawablah satu pertanyaan kecil saya. Bertemu kembali di medsos dengan teman2 masa sekolah dulu, saya takjub betapa teman2 yang dulu nilainya terlihat biasa2 saja, ternyata punya pencapaian hebat yang diraih lewat jalur akademik.

Ternyata JENIUS itu, dalam satu dan lain bentuk, hanya soal MAU.

Advertisements

REWEL

Seorang ibu mencoba menenangkan balitanya yang rewel si dalam angkot yang panas dan jalanan yang macet. Kasihan, tapi bingung bagaimana saya bisa membantu. Akhirnya saya tersenyum pada ibunya, untuk memberi tau kalau saya tidak keberatan sepatu anaknya menendang-nendang dan mengotori celana putih saya.

Saya pernah mengalami hal yang persis sama waktu anak2 kecil dulu, dan seorang ibu setengah baya marah karena terciprat sedikit air putih dari botol minum yang saya pegang sambil memegang bayi yang sedang rewel dan menenangkan dua kakaknya.

Tiap orang harusnya mempermudah tiap kondisi untuk ibu dengan bayi/balita. Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia.

LAGI NYESEK?

Mmm….. khawatir salah persepsi nih.

Saya bukan mau bilang, “Ayo pada resign!”, karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.

Tapi memang benar, ada masa ketika saya ‘nyesek’ ngeliat rekan sejawat berkesempatan meningkatkan profesionalisme, ketika ada teman mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri, atau ketika teman memajang hasil crafting yang unyu, sementara saya cuma bisa ngiler karena ada 3 anak yang masih kecil dan tidak ada yang bisa dititipi.

Lalu sepuluh tahun berlalu, yang bungsu sudah mulai mandiri, yang tengah sudah tak perlu diawasi, yang sulung sudah bisa menjaga adik-adiknya. Dengan mengompromikan jadwal dengan suami, saya bisa ikut kelas crafting sesekali, datang ke beberapa acara workshop dan seminar kependidikan, juga mulai mengambil tantangan baru dalam pekerjaan.

Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah….

IBU TEGA? BUKAN, IBU BAHAGIA!

Beberapa tahun yang lalu di sebuah acara keluarga, saya mendapat teguran dari seorang kerabat, “Anakmu sudah dikasih makan, belum?”

Saat itu anak-anak masih kecil dan makan masih harus disuapi. Pertanyaan ini datang karena dia melihat saya sedang makan, sementara anak-anak masih sibuk main.

Saya jawab, “Belum. Ibunya dulu nih yang makan.”

Lalu muncullah komentar mulai dari bercanda sampai sungguh-sungguh, yang intinya: Ya ampuuuun, tega beneeeerrrr….. Kok ibunya malah makan duluan. Anaknya dulu dong, kan kasihan.

Saya mah tetep keukeuh bahwa saya harus makan dulu sebelum menyuapi anak-anak. Bukan karena egois deh kayaknya, tapi justru untuk pengendalian diri saya. Kalau sudah kenyang, saya cenderung bisa sabar menyuapi anak, ga terburu-buru, ga cepet kesel, dan menikmati prosesnya. Makanya saya memilih menyelesaikan makan dengan cepat, baru menyuapi anak.

Sama kasusnya pada pemakaian masker oksigen di pesawat. Kalau terjadi peristiwa darurat, orang tua yang harus lebih dulu pakai masker, baru memakaikan anak. Kalau anak yang dipakaikan dulu, selain sulit mengendalikan anak di situasi darurat, orang tuanya bisa lebih dulu kehabisan napas. Akhirnya semua tidak tertolong.

Logika yang sama saya gunakan untuk hal lain dalam mengurus anak saya. Saya tidak setuju pada pendapat bahwa ibu punya kewajiban untuk menderita. Justru sebagai ibu, saya harus bahagia duluan, harus LUNAS pada diri sendiri. Karena hanya ibu bahagia yang akan menghasilkan anak bahagia.

Apakah hal itu menjadikan saya ibu yang egois? Ya, kalau mencari kebahagiaan artinya saya pelesiran keliling dunia selama sebulan dan menitipkan anak-anak pada pengasuh. Saya akan dibilang egois jika saya mencari kebahagiaan sendiri dengan meninggalkan orang lain, dan bukan menyertakan mereka.

Siapa yang bertanggung jawab atas pertumbuhan anak secara optimal?

Ibu? Bukaaaan…. Jawabannya tentu semua pihak. Ibu, ayah, kakek nenek, lingkungan, masyarakat, bahkan pemerintah dan negara. Memang yang paling dekat dengan anak adalah ibunya, dan oleh sebab itu, semua orang harus mendukung ibu-ibu supaya bisa hidup dengan bahagia.

Wah, enak beeeeudd…. Kasih aja duit yang banyak, kasih pelayan belasan orang, kamar superior deluxe a la hotel, perawatan kecantikan dari ujung rambut ke ujung kaki…

Gitu memangnya? Waduh, dangkal banget tuh konsep kebahagiaannya. Itu mah bukan bahagia, tapi matre.

Tiap orang boleh sih mendefinisikan sendiri apa itu kebahagiaan. Tapi bagi saya, kebahagiaan adalah tercukupinya kebutuhan jiwa, hati dan akal kita. Dan itulah, saya kira, yang akan membuat para ibu jadi bahagia.

(untuk seorang adik yang esok akan memulai hidup baru (kembali): semoga kali ini berkah dan bahagia ya….)

CINTA YANG TAK LAGI SAMA

Saat SMP saya gemar membaca puisi cinta dari kartu bermerek ‘Harvest’ dan mengoleksi lirik lagu romantis. Cinta itu begini, cinta itu begitu, katanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat SMA hingga masa kuliah, hati saya juga merasakan gejolaknya mengiringi kisah-kisah masa muda. Cinta itu begini, cinta itu begitu, rasa-rasanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat ini saya menikah 10 tahun, beranak 3. Saya pikir saya sudah mengerti tentang cinta sekarang, tapi ternyata masih juga belum. Paling hanya sepotong pemahaman, bahwa cinta saya telah berubah. Bukan hanya pada suami, juga pada anak. Cinta ini rasanya tak pernah lagi sama.

Saya selalu tergila-gila pada anak-anak saya setelah mereka dilahirkan. Ehm, mungkin tepatnya, setelah mereka dilahirkan dan masa baby blues berlalu ^_^;. Tapi ya, saya jatuh cinta setengah mati. Tak ingin berada jauh, tak pernah bosan menatap, selalu ingin bersentuhan, tak peduli waktu yang hilang ketika sedang bersama.

Tapi itu wajar bukan? Bayi amat mudah dicintai.

Tapi bagaimana mencintai anak ketika tantrum di pusat perbelanjaan yang ramai, ketika menumpahkan habis 600 ml sabun mandi ke dalam bak, ketika menolak masakan disiapkan dengan berkeringat, ketika menarik kerah baju adik bayinya hingga jatuh terduduk?

Tapi bagaimana mencintai anak menjelang ABG, ketika mulai keras kepala, ketika terus menyusuli semua perkataan kita dengan “Emang kenapa?”, ketika berkata “Tidak mau” dengan tegas bahkan sebelum kalimat kita selesai?

Sama halnya dengan jatuh cinta pada pemuda yang mengirimkan sms “Good night, sleep tight” setiap malam dan memberimu mawar ketika ulang tahun. Samakah cara mencintai dia ketika telah menikah sepuluh tahun?

Tidak bisa, tidak bisa cinta yang sama, yang berbunga-bunga dan penuh mimpi. Cinta ini harus berubah, menjadi lebih dewasa dan realistis. Cinta dengan kompromi dan toleransi.

Dan, saya masih merasa tak paham arti cinta.

Jadi teringat kata-kata seorang dosen saya di kampus dulu. Dia bilang, MAU itu lebih penting daripada CINTA. Jadi tak perlu menikah atas nama cinta. Yang penting dua-duanya MAU. Mau saling membantu menciptakan rumah yang hangat, mau saling mengingatkan untuk tetap berada di jalanNya, mau menemani sampai usia senja.  .

Hmmm, mungkin memang cinta tidak serumit yang saya kira ^_^.

CINTA ITU SEDERHANA

Saat SMP saya gemar membaca puisi cinta dari kartu bermerek ‘Harvest’ dan mengoleksi lirik lagu romantis. Cinta itu begini, cinta itu begitu, katanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat SMA hingga masa kuliah, hati saya juga merasakan gejolaknya mengiringi kisah-kisah masa muda. Cinta itu begini, cinta itu begitu, rasa-rasanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat ini saya menikah 10 tahun, beranak 3. Saya pikir saya sudah mengerti tentang cinta sekarang, tapi ternyata masih juga belum. Paling hanya sepotong pemahaman, bahwa cinta saya telah berubah. Bukan hanya pada suami, juga pada anak. Cinta ini rasanya tak pernah lagi sama.

Saya selalu tergila-gila pada anak-anak saya setelah mereka dilahirkan. Ehm, mungkin tepatnya, setelah mereka dilahirkan dan masa baby blues berlalu ^_^;. Tapi ya, saya jatuh cinta setengah mati. Tak ingin berada jauh, tak pernah bosan menatap, selalu ingin bersentuhan, tak peduli waktu yang hilang ketika sedang bersama.

Tapi itu wajar bukan? Bayi amat mudah dicintai.

Tapi bagaimana mencintai anak ketika tantrum di pusat perbelanjaan yang ramai, ketika menumpahkan habis 600 ml sabun mandi ke dalam bak, ketika menolak masakan disiapkan dengan berkeringat, ketika menarik kerah baju adik bayinya hingga jatuh terduduk?

Tapi bagaimana mencintai anak menjelang ABG, ketika mulai keras kepala, ketika terus menyusuli semua perkataan kita dengan “Emang kenapa?”, ketika berkata “Tidak mau” dengan tegas bahkan sebelum kalimat kita selesai?

Sama halnya dengan jatuh cinta pada pemuda yang mengirimkan sms “Good night, sleep tight” setiap malam dan memberimu mawar ketika ulang tahun. Samakah cara mencintai dia ketika telah menikah sepuluh tahun?

Tidak bisa, tidak bisa cinta yang sama, yang berbunga-bunga dan penuh mimpi. Cinta ini harus berubah, menjadi lebih dewasa dan realistis. Cinta dengan kompromi dan toleransi.

Dan, saya masih merasa tak paham arti cinta.

Jadi teringat kata-kata seorang dosen saya di kampus dulu. Dia bilang, MAU itu lebih penting daripada CINTA. Jadi tak perlu menikah atas nama cinta. Yang penting dua-duanya MAU. Mau saling membantu menciptakan rumah yang hangat, mau saling mengingatkan untuk tetap berada di jalanNya, mau menemani sampai usia senja.  .

Hmmm, mungkin memang cinta tidak serumit yang saya kira ^_^.