LAGI NYESEK?

Mmm….. khawatir salah persepsi nih.

Saya bukan mau bilang, “Ayo pada resign!”, karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.

Tapi memang benar, ada masa ketika saya ‘nyesek’ ngeliat rekan sejawat berkesempatan meningkatkan profesionalisme, ketika ada teman mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri, atau ketika teman memajang hasil crafting yang unyu, sementara saya cuma bisa ngiler karena ada 3 anak yang masih kecil dan tidak ada yang bisa dititipi.

Lalu sepuluh tahun berlalu, yang bungsu sudah mulai mandiri, yang tengah sudah tak perlu diawasi, yang sulung sudah bisa menjaga adik-adiknya. Dengan mengompromikan jadwal dengan suami, saya bisa ikut kelas crafting sesekali, datang ke beberapa acara workshop dan seminar kependidikan, juga mulai mengambil tantangan baru dalam pekerjaan.

Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah….

LONTONG ANTI GALAU

Janji rapat jam 9, tapi jam segini masih di pintu tol Pondok Aren. Pasti telat ini!Apa boleh buat, meski berusaha berangkat pagi buta dari rumah mertua di Bandung, tapi beribu (jiah, lebay) hal-hal kecil mencegah kami berangkat sebelum pukul 6. Akhirnya, jam 9 baru sampai Bintaro, tentu saja belum ada yang mandi.

Ngebut, 9.15 sampai Ciledug. Serahkan 3 anak dan koper pakaian kotor pada sumi, lalu kabur ngantor. Yah, nasib jadi guru di sekolah biasa-biasa, hari sabtu masih masuk.

Rapat berlangsung hingga jam 13.00. Masak? Lupakan saja, jadi saya mengandalkan arem-arem alias lontong isi untuk makan siang keluarga. Apaaaa? Makan siang pakai lontong? Setelah tadi sarapan mie instan?

ImageBener banget, saya bertanggung jawab untuk mencukupi gizi dan menjaga kesehatan suami dan anak-anak dengan menyajikan makanan sehat dan berkualitas. Bekerja di luar rumah tanpa punya asisten penuh waktu memang tidak bisa juga dijadikan alasan, karena kuncinya cuma dua: antisipasi dan manajemen waktu. Tapi walk the talk memang tidak mudah.

Tadinya saya kepingin galau, tapi ga jadi deh. Arem-aremnya isi wortel+kentang+daging kok. Dihitung-hitung, karbohidrat, protein dan seratnya ada, meski ga tau cukup atau nggak. Soal mie instan untuk anak-anak, yaaaaa namanya juga kefefet, hehehe… Bicara tentang tingkat kepuasan, suami ga komplen, anak-anak malah kesenengan. Jadi, saya singkirkan rasa bersalah.

Karena saya bukan ibu sempurna, tapi jelas harus jadi ibu yang bahagia.


MISSION ACCOMPLISHED

Belakangan ini, saya sedang menimbang-nimbang makna ‘me time’.

Sebelumnya, saya ga bisa terima pas seorang sahabat bilang, “Me time-nya pas main sama anak aja.” Ga bisa, gimana mungkin? Cape ngantor, cape ngurus rumah, maka ‘me time’ bagi saya adalah beraktifitas sendiri, tanpa gangguan urusan rumah tangga dan kantor, termasuk anak dan suami.

Egois? Ya nggaklah, menurut saya sih. Setiap hari mengurus orang, saya berhak dong punya hari libur untuk mengurus diri sendiri.

Sayangnya, ‘me time’ a la saya itu jarang bisa kesampaian. Karena hanya dibantu asisten cuci-setrika saja, maka begitu buka pintu rumah, kerjaan rumah langsung harus ditangani.

Mau meninggalkan rumah rada lama, misalnya ke salon atau belanja sendirian, musti nyari waktu ketika suami libur, agar bisa nitip rumah dan tiga anak. Jadi memang (sekarang ini) masih sulit menekuni hobi atau ikut kelas aerobik atau apalah yang bisa dibilang ‘me time’. Apalagi ngopi-ngopi bareng teman lama, ga mungkin lah.

Makanya saya sering kesel. Cuma kepengen ngider di toko buku dengan tenang aja kok susah banget.

Tapi berinteraksi dengan banyak pemikiran sahabat-sahabat para emak jempol, saya mulai merasakan bahwa ada yang salah dengan cara saya memandang ‘me time’ itu.

Barangkali saya terlalu sempit mengartikan ‘me time’, tidak berpikir out of the box. Padahal harusnya, waktu yang digunakan untuk membuat passion pribadi tercapai bisa juga dibilang ‘me time’. Jadi kalau begitu, ‘me time’ saya adalah…. ya, jadi guru.

Pekerjaan yang saya pilih untuk mewakili passion pribadi adalah dengan menjadi guru. Alhamdulillah, izin suami sudah di tangan. Hanya belum dimaksimalkan.

Mulai sekarang, tiap saya berangkat bekerja, saya berusaha melakukannya dengan fokus dan sadar (concious). Saya merencanakan pembelajaran yang menyenangkan, berusaha bersinergi dengan rekan-rekan guru, memikirkan program pengembangan apa yang bisa diusulkan untuk mengembangkan potensi semua warga sekolah.

Lalu saya bertanya: Do I like what I do? Do I live my dreams? Am I happy doing this job?

YES I DO!
YES I AM!

Saya puas, saya bersyukur. Meski sering kali banyak hal tidak selesai, terganjal masalah di sana-sini, tapi alhamdulillah saya bisa pulang dengan bahagia, dengan puas. Saya telah ‘merawat’ diri saya, bukan cuma mengurus rambut dan kuku, atau membeli tas baru agar matching dengan sepatu, tapi memuaskan akal, mengeluarkan potensi, dan akhirnya mencukupi kebutuhan jiwa ini.

It’s my me time. Mission accomplished.

Rasa puas itulah, yang timbul karena saya memilih pekerjaan yang saya sukai, yang membuat saya siap memberikan diri saya full pada keluarga sejak pertama kali membuka pintu rumah.

Barulah saya sadar, ternyata tak sulit untuk jadi orang (= ibu) yang bahagia.