JINGGA

Ketika saya sedang galau beberapa waktu yang lalu, Gita meminjamkan saya buku ini. Dana ada beberapa hal menarik setelah menuntaskannya.

Image

Pertama, makin mupeng aja pengen travelling. Kapan ya, kapan ya, kapan yaaaa…. Kalo cuma ngiler dan berandai-andai, memang ga bisa terwujud sih ^_^;

Kedua, bagaimana mungkin, coba? Bagaimana mungkin saya baru ngeh (ngeh doang, ga sampe ngerti) tentang perbedaan filsafat Socrates dengan muridnya Plato, pengaruhnya pada Renaissance, sekaligus memahami makna Kanz Makhfiyy dan ‘kerinduan suling’ milik Rumi, justru ketika baca buku travelling ini.

Dulu saya ngapain aja sih pas kuliah? Kenapa bisa kaga paham sama sekali tentang hal-hal tersebut, padahal semuanya ada di 3 mata kuliah filsafat wajib fakultas, dan 2 mata kuliah sastra islam wajib jurusan. Payah =_=’.

Dan terakhir, saya bersyukur saya tidak segalau penulis buku tersebut. Yah, ada suami dan tiga anak yang mesti didampigi, pekerjaan yang harus diurus, maka syukurlah saya tidak mengalami guncangan sebesar itu, guncangan yang membuat seseorang tak bisa mundur lagi. Saya membayangkan bagaimana rasanya, diliputi banyak ketidakmengertian, namun ada rindu yang sangat, belum lagi ketidakpahaman orang-orang di sekitar pada apa yang kita jalani.

Tapi saya merasa bahwa begitulah attitude seharusnya. Setelah lulus dari fakultas sastra yang mewajibkan saya mengikuti kuliah-kuliah filsafat dan sufisme yang sama sekali tidak saya mengerti itu, yang  membuat mahasiswanya jumawa karena merasa mengetahui inti dari kebenaran, yang menggunakan bahasa-bahasa susah agar terlihat intelek, saya baru merasa  sekarang ini bahwa ketundukanhatilah yang nihil dari saya saat itu. Karena hanya yang bening yang bisa memantulkan Cahaya.

Semua dialektika itu, obrolan di Kansas dan pojokan Gedung X itu, apakah merupakan pencarian, atau malah pameran pengetahuan? Jalan setapak pada Dia yang dirindu, atau sekedar kegenitan intelektual? Apakah untukNya, atau yang selainNya?

Maka saya menghormati teman-teman pemberani yang menyusuri jalan pencarian ini hanya karenaNya, yang menundukkan hati, yang hatinya perih merindu Al-Haqq. Yang bingung, yang tak mengerti, tapi ikhlash. Karena ikhlash adalah memurnikan motivasi dari selainNya.

path

Tapi sedari dulu, saya memang orang yang shallow kok. Dangkal, ga ‘dalem’ gitu deh. Demen banget belanja, ga paham kalo baca buku-buku serius, ga nyambung tiap diajak mikir yang berat,  nonton film/drama hanya karena pemainnya cakep, dan ngeblog demi eksis di socmed. Mungkin itu sebabnya kegalauan tidak membuat saya jatuh bangun mencari. Cukup dengan baca dikit-dikit, merenung dikit-dikit, terus puas dah, hehehehe…

Sebagai penutup, saya ingin bilang, “Tengkyu tengkyu tengkyuuu, Gitaaaa… ❤ ❤ <3”

 

“Kau tahu, Nak, hanya orang2 munafiklah yang sibuk mempertentangkan sesuatu; memperdebatkan hal yang sudah jelas; mengarang pertanyaan atas hal yang tidak perlu dipertanyakan atau dikomentari lagi, dan mencari2 alasan atas nasehat yang sudah terang benderang. Menyenangkan memang melakukannya. Bersilat lidah. Bicara seolah pintar sekali tapi kosong. Tapi lama-lama kau akan kehilangan pintu hati yang lapang menerima nasehat. Cam-kan itu baik-baik.” -tereliye-