HADIAH

Kalau ada yang menawari sesuatu, bagaimana ‪#‎adab‬ kita? Kalau suka, ambil sambil senyum dan bilang terima kasih (atas pemberiannya). Kalau tidak, tolak sambil senyum dan bilang terima kasih (karena sudah menawarkan). Itu kalau ditawari sesuatu.

Bagaimana kalau dikasih hadiah? Kata saya mah, WAJIB menerima dengan senang hati. Ga perlu menolak karena sungkan atau khawatir dianggap ga sopan kalau menerima. Apalagi pake alasan bukan selera atau udah banyak di rumah atau apalah.

Rasulullah bilang, “Saling menghadiahilah, niscaya kalian akan saling mencinta.” Berarti hadiah itu bukan soal barang, tapi tanda sayang. Bayangin betapa ga enaknya ketika kemudian ditolak.

Jadi kalo diberi ‪#‎hadiah‬, apapun bentuknya, terimalah dengan sukacita, senyum bahagia, dan terima kasih yang tulus.

MARAH

Kemarin kegiatan agak padat, ditambah kehujanan di Cidodol, jadi pagi ini saya bangun dengan sakit kepala. Tapi jam 7 harus sudah ada di Senayan. Ketika sampai di rumah, kepala masih cenat cenut, sementara rumah berantakan dan belum ada makan siang. Jadilah saya masuk ke ‘senggol bacok mode’.

Dan ketika beneran ada yang nyenggol, saya marah.

Apakah ibu tak boleh marah? Beragam teori parenting kadang bener2 bikin stres orang seperti saya, merasa bahwa setalah 13 tahun jadi ibu, sepertinya saya belum juga jadi ibu yang baik.

Jadi saya marah. Saya bilang saya kesal, dan saya utarakan apa yang membuat saya kesal. Apakah saya melakukannya dengan tenang? Tentu saja tidak. Kata2 saya tajam, dan ekspresi kemarahan saya terlihat jelas.

Tentu saja seperti semua orang, saya punya batasan ketika marah. Sedapat mungkin tidak berteriak, tidak merusak, tidak menyakiti fisik, dan tidak merendahkan orang lain. Meski jujur saja, saya masih sering melewati batasan yang saya buat itu.

Tapi tidak, saya tidak merasa bersalah karena saya marah. Saya tidak merasa bersalah karena menjadi manusia.

ADAB TERHADAP AHLI ILMU

Dikisahkan, dari ribuan orang yang duduk di majelis ilmu Imam Ahmad bin Hambal, hanya ratusan yang mencatat. Sisanya mengamati adab beliau ketika menyampaikan ilmu. Begitulah bahwa dalam Islam, adab didahulukan sebelum ilmu.

Hari ini telah hadir dua guru di sekolah kami, dan jamaah menyaksikan sebagian dari adab mereka. Ketika KH. Ashim Sutardi naik ke panggung, ia terlebih dulu meminta izin KH. Tadjudin Hasan, karena akan berbicara mendahului seniornya.

Ketika KH. Tadjudin naik ke panggung, KH. Ashim mengambil tangannya dan menuntun seniornya sampai ke panggung, begitu pula ketika turun, dan setelahnya takzim mencatat ilmu langsung dari beliau (seperti terlihat dalam gambar).

Maka benarlah, dari melihat ulama kita belajar adab, mencontoh perilaku mereka, para pewaris Nabi.

JENIUS

Beberapa hari yang lalu Dhiya Fissilmie nonton Genius with Stephen Hawkings di NatGeo, episode Are We Alone.

Acaranya menarik karena di situ ditampilkan 3 relawan yang bukan ilmuwan dan tidak belajar tentang fisika dan astronomi. Mereka diberi barang2 sebagai model dari alam raya dan sedikit informasi sebagai pemicu, lalu dibiarkan mencari penjelasan sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Hasilnya, mereka menemukan sendiri teori2 yang ditemukan para fisikawan dan astronomer. Hal ini, menurut Stephen Hawkings, adalah bukti bahwa orang2 jenius itu ada di mana2. Dan banyak sekali jumlahnya.

Kesimpulan Dhifie adalah: “Kita bisa jadi jenius, jika kita mau.”

‘Jika kita MAU’, saya manggut2 karena terjawablah satu pertanyaan kecil saya. Bertemu kembali di medsos dengan teman2 masa sekolah dulu, saya takjub betapa teman2 yang dulu nilainya terlihat biasa2 saja, ternyata punya pencapaian hebat yang diraih lewat jalur akademik.

Ternyata JENIUS itu, dalam satu dan lain bentuk, hanya soal MAU.

MINDER?

Suatu hari di tahun 2003, saya bertemu dengan kawan yang pendapatnya bernas dan referensinya luas di forum2 online.

Saya, yang waktu itu baru diwisuda dan tak tau apa2 soal dunia, mengirim email japri dan bertanya, “Mba dulu kuliah di mana? Ambil jurusan apa?”

Betapa kaget saya ketika dia menjawab bahwa dia ibu rumah tangga, lulusan SMA, dan tidak pernah kuliah.

Sejak saat itu saya insyaf, tidak lagi kagum atau meremehkan seseorang semata berdasarkan gelar atau jabatan.

Dan perjalanan hidup seterusnya mempertemukan saya pada banyak sekali ibu2 rumah tangga lain, yang memilih tidak berkarir, yang tiap hari nyebokin anak dan ngepel tumpahan susu, tapi ketika mereka buka mulut, yang keluar adalah ilmu dan nasihat.

Karena itu saya tidak pernah berkomentar atau share gambar tentang ‘jangan memandang rendah profesi ibu rumah tangga’. Karena memang saya tidak pernah memandang rendah.

Pengalaman mengajarkan saya demikian.

Hari ini, saya berkesempatan duduk di antara para doktor dan ahli. Nyengir aja dah sepanjang waktu, karena emak2 penggemar drama korea, yang kebetulan bekerja sebagai guru sekolah kampung, punya ijasah juga mentok di S1, qadarullah kok ya ada di ruangan ini.

Tapi alhamdulillah, saya tidak merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain.

Sekali lagi, saya sudah tidak lagi kagum atau meremehkan seseorang semata berdasarkan gelar atau jabatan.

LAGI NYESEK?

Mmm….. khawatir salah persepsi nih.

Saya bukan mau bilang, “Ayo pada resign!”, karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.

Tapi memang benar, ada masa ketika saya ‘nyesek’ ngeliat rekan sejawat berkesempatan meningkatkan profesionalisme, ketika ada teman mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri, atau ketika teman memajang hasil crafting yang unyu, sementara saya cuma bisa ngiler karena ada 3 anak yang masih kecil dan tidak ada yang bisa dititipi.

Lalu sepuluh tahun berlalu, yang bungsu sudah mulai mandiri, yang tengah sudah tak perlu diawasi, yang sulung sudah bisa menjaga adik-adiknya. Dengan mengompromikan jadwal dengan suami, saya bisa ikut kelas crafting sesekali, datang ke beberapa acara workshop dan seminar kependidikan, juga mulai mengambil tantangan baru dalam pekerjaan.

Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah….

BE MYSELF?

Waktu saya mengajar, beberapa siswa berkomentar tak percaya, “Ibu ga suka musik?” Sepertinya bertanya apa ada orang yang bisa hidup tanpa dengar lagu.

Saya mengangguk. Ya, saya memang tidak menggandrungi musik. Suka sih, tapi tak pernah berselera untuk banyak memperhatikan musik. Tapi ketika saya remaja dulu, saya merasa harus suka musik. Semua teman saya melakukannya, jadi saya merasa harus juga melakukannya.

Jadi perjuangan (haish ^^;) masa muda itu ternyata ada di seputar mencari ‘yang mana sih, gue itu’.  Berusaha menemukan apa yang disuka apa yang tidak, apa yang cocok apa yang tidak, tanpa pengaruh dari orang lain.

Di usia sekarang, sedikit banyak, saya sudah melewati fase itu. Rasa-rasanya begitu, hehehe….

Sekarang saya ga sungkan bilang kalo saya memang ga tau apa-apa soal musik, saya gampang nangis, motorik saya ga gitu bagus, dandanan saya rada aneh, saya bukan orang yang frontal, dll. Pokoknya saya udah terima diri saya emang begini dikasih sama Allah. Kalo ada yang ngetawain, atau ngejekin, culun banget sih lo, kuper, cengeng, apalah, ga ngaruh lagi sekarang.

Sekarang yang susah itu adalah ga bersifat munafik.

Kalo dulu saya bersikap ‘palsu’ emang karena belum nemu ‘gue itu kayak gimana sih orangnya’. Jadi bisa dimaafkanlah, namanya juga belum tau. Kalo sekarang, saya tau diri saya gimana, tapi berusaha untuk melakukan sesuatu hanya agar dianggap asik, dianggap keren, dianggap peduli. Biar punya temen, biar orang pada suka, biar dipuji.

Pencitraan. Hadeeeeeh…..