GREAT APPETITE

Si Akang ga suka kalau saya cuma pesan soto tanpa nasi atau hanya salad  saja di restoran.

Dia ga suka kalo orang berperut dan berselera besar kayak saya sok-sokan pesan makanan setengah porsi.

Dia ga suka kalau saya tidak ikut makan pecel lele dengan alasan menghindari gorengan.

Dia ga suka kalo saya melewatkan makan malam supaya agak kurusan.

Dia bilang, yang kayak gitu mengganggu selera semua orang yang makan bersama saya.

Well, I think he like woman with good appetite.

Eh, jadi ingat salah satu drama Korea yang saya tonton belum beberapa waktuyang lalu. Ceritanya ada seorang wanita karir sukses yang harus belajar jadi wanita supaya dapat jodoh (#NP: “Wanita dijajah pria sejak dulu kalaaa…”). Salah satu poin yang dipelajari adalah: Makanlah dengan bersemangat. Lelaki tidak suka melihat wanita yang enggan pada makanan yang dipilihnya sendiri. Kira-kira begitulah salah satu kebijaksanaan pemikat lelaki ini. Meski jadi aneh karena pasa saat bersamaan, lelaki juga menginginkan wanita tampil langsing.

Jadi begitulah yang terjadi semalam, sepiring pempek hangat berminyak, dengan cuko tabur mentimun dan ebi. Seperti biasa, saya protes (dengan wajah yang kentara bener mupeng) kalo makan gorengan jam segini bisa bikin saya tambah melar. Dan juga seperti biasa, si Akang menjawab santhayyy…. “Udah terlanjur!”

BON APPETITE!!!

image

Advertisements

DON’T TALK. COMMUNICATE!

Saya bertanya-tanya, kenapa ya suka nulis model beginian? Pikir punya pikir, apalagi alasannya selain karena saya NARSIS, hwahahahaha….

Begini ceritanya.

Setelah nikah, saya pernah nanya ke suami, apa alasan dia menikahi saya. Apakah karena saya soulmate yang selama ini dicarinya? Apakah karena pribadi saya yang luar biasa? Apakah karena cinta mati dan tak bisa ke lain hati?

Teeeeeet!!! Salah, sodara-sodara.

Jawabannya ternyata simpel aja, dan ga pake romantis-romantisan sama sekali (secara dia bukan cowo romantis). Dia bilang, selain pertimbangan bahwa kami seiman dan wajah saya ga ancur-ancur banget, adalah, “I think we can   communicate.”

Kadang sebelum nikah, yang tidak banyak dipikirin adalah bagaimana kualitas komunikasi di antara dua orang yang punya ‘rencana’ ini. Rendengan ke sana rendengan ke sini, tapi ga mikirin apakah yang ada di antara mereka selama ini cuma ngomong atau beneran komunikasi.

Kalo ada yang merasa ga didenger, kalo ada yang merasa ga bebas mengutarakan pendapat, kalo ada yang merasa pendapatnya dianggap sepele, kalo bawaannya curiga aja,  kalo ada yang merasa ‘masalah-lu-ya-urusan-lu-jadi-jangan-bikin-gue-pusing’, kalo ada yang ngomong ga pake diayak dulu, kalo ada yang hobi nuduh, kalo ada yang nelen berita bulet-bulat tanpa konfirmasi, kalo ada yang mikir lebih baik nyimpen cerita sendiri aja, kalo ada yang ngerasa ga nyaman atau ga nyambung pas cerita, nah itu artinya komunikasinya terhambat.

Sebelum nikah, sebaiknya perbaiki dulu hambatannya. Kalo ga bisa juga, mungkin perlu pikir-pikir lagi untuk nikah sama orang itu.

Saya juga belum lama menikah sebenernya. Makanya pengalaman saya baru sedikit. Lagipula, people changes, begitu pula dengan kondisi yang ada di sekeliling kita. Ketika semua berubah, gimana cara kita bisa bertahan dalam pernikahan? Dengan c-i-n-t-a? Oh please, deh….

Jawabannya adalah dengan PRINSIP.

Oke deh, kita nikah yuk. Tapi apapun yang terjadi, masalah apapun yang datang, godaan apapun yang menghampiri, kita komitmen sama prinsip: komunikasi yang baik, berbuat ihsan, berbagi tanggung jawab. Misalnya gitu. Prinsip yang disepakati tiap pasangan tentu aja beda-beda.

Ini imho loh ya, alias just in my humble opinion. Bukan kata pakar ato selebriti.

O ya, kalau saya sendiri? Kenapa saat itu mau diajak nikah, padahal baru 2 bulan ngerasain berusia 21, dan masih kuliah pula.

Soalnya mumpung ada yang mau. Kalo sekarang sok nolak-nolak, belum tentu ntar ke sananya ada lagi yang mau. Ya kan?

10th ANNIVERSARY

 

Waktu itu saya ada di lantai dasar, berdiri membelakangi tangga, meneliti jadwal kuliah yang tertempel di tembok. Pengantar Mikroekonomi, Ledi Trialdi, S. E. Siapa tuh?

Sambil mengangkat bahu saya naik ke lantai dua dan masuk ruangan. Baris paling belakang, seperti biasa. Dosennya masuk, seorang lelaki berkaca mata dengan kemeja dan celana panjang hitam. Semua normal saja.

Tapi memang tidak ada yang menyangka, kalo orang itu akan jadi suami saya tak lama lagi, hanya satu setengah tahun ke depan.

Waktu dilamar, usia saya masih 20 tahun pas. Saat itu booming pernikahan dini di kampus sudah dimulai. Bagaimana saya membayangkan menjadi seorang istri di saat masih jadi mahasiswa, dengan suami dari fakultas sebelah?

Dijemput sepulang kuliah, lalu bercerita sambil tertawa berdua, sambil berpegangan menyusuri jalan setapak antara Sastra sampai halte UI. Kayak beberapa senior saya itu deh pokoknya, hihihihi…. Tentu saja, saat itu gerombol kelopak pohon kapuk di sepanjang jalan harus sudah merekah, agar bunganya yang halus putih bisa terbang melayang mengimbangi kicau burung.

Kenyataannya?

Sejak menikah, sampai sekarang, kami tidak pernah jalan bersisian dengan tangan saling menggenggam, hahahahaha….

Menurut si Akang, meski sudah menikah, tidak menunjukkan kemesraan (termasuk berpegangan tangan) di depan umum lebih dekat pada kebersihan hati, baik bagi kami dan bagi orang yang melihat. Setelah dikipir-kipir, iya juga sih. Jadi tidak masalah bagi saya untuk menghapus harapan ala sinetron itu dari kepala.

Kalo sekarang sih, ya ga mungkinlah bisa pegangan tangan. Satu dorong kereta bayi plus tas popok, satu lagi megangin dua anak yang gemar raib kalo kelewatan diliatin sekitar 30 detik. Dan itu belum termasuk plastik keresek belanjaan yaaaa.

Tapi ngomongin soal tidak romantis, doi (ya ampun, jadul banget ini kata) memang tidak romantis. Nah, justru karena itu saya jadi seneng ngegodain:

“Pak, sayang ga sama aku?”
“Yah, lumayanlah dikit.”
“Yah, kok gitu? Sayang ga?”
“Udah terlanjur sih, mau gimana lagi.”
“Sayang gaaaaaaa?’
“Bosen ah, nanyanya itu mulu.”

Hahahahaha….. Hah, sepuluh tahun. Yang dulunya sering bikin kesel dan berantem, sekarang bisa jadi bahan bercanda sampe sakit perut!

“Pak, kok ga pernah bilang ‘I love You’ sih ke aku?”
“Pernah kok, dua apa tiga kali, gitu.”

Kami ketawa sampe guling-guling. Masa sepuluh tahun nikah, bilang i love you-nya bisa keitung! Dikit banget lagi!

Ya begitulah barangkali romantis ala kami, bukan bunga, coklat, atau puisi. Waktu juga yang menghantarkan saya pada pemahaman, bahwa cinta adalah dukungan dan pengorbanan.

Dalam sebuah what-so-called ‘ikatan’, potensi saya malah tumbuh dan berkembang. Saya menemukan beberapa passion dalam hidup, dan suami saya bukan hanya mendukung, tapi terlibat di dalamnya. Ia rela tidak memiliki kendaraan dan rumah sendiri hingga sekarang, demi mendahulukan beberapa kepentingan saya. Sungguh saya tidak bisa memohon yang lebih baik dari ini.

Jadi saya bersyukur untuk 10 tahun kebelakang, dan berdoa untuk tahun-tahun selanjutnya.

By the way, saya sedang bingung mengisi status FB untuk 10th anniversary ini. Apakah memilih Maher Zain -Sepanjang Hidup- ataukah Iwan Fals -Aku Cinta Kau Saat Ini-. Akhirnya, yang terpilih adalah si Jambul Khatulistiwa.

“Alhamdulillah ya, Sesuatu banget!”

 

KARENA SEMPURNA BANYAK CARANYA

Kenyataannya:

Si Akang dosen matematika.
NEM matematika saya ngepas di angka 3.
(kalo sekarang ikut UN ga bakal lulus)

Si Akang jago hampir semua olahraga permainan.
Saya naik eskalator masih kagok sampai sekarang.

Si Akang selalu meletakkan barangnya di tempat yang sama.
Saya benar-benar acak-acakan.

Si Akang suka yang namanya ‘persiapan’.
Saya suka yang namanya ‘kelupaan’.
(yang hidup/bekerja dengan saya pasti tau kebiasaan ini)

Si Akang pinter nyanyi.
Saya buta nada.

Si Akang tipe koleris. .
Saya tipe plegmatis.

Alhamdulillah setelah bertemu dengan lelaki ini, hidup saya jadi agak teratur sekarang ^_^;

Dengan kenyataan seperti di atas, apakah saya merasa minder? Misalnya merasa kurang cerdas, kurang berbakat, atau apa gitu? Nggak tuhh….

Ambil satu sifat saya: acak-acakan. Bukan hanya barang-barang saja saya berantakan, cara saya berpikir juga acak. Tepatnya Acak-Abstrak (AA), begitu kata Quantum Learning.

Apa berotak AA adalah sebuah kekurangan? Bisa saja, tapi sekaligus juga jadi kelebihan. Orang yang otaknya bekerja secara AA katanya, katanya niiiiiih, kreatif loh….

Jadi, memang saya harus berlatih meletakkan barang pada tempatnya dan menghilangkan penyakit ‘pelupa’ saya, tapi biarlah cara bekerja otak AA saya tetap apa adanya.

Si Akang orangnya well-prepared dan well-organized. Nah, ini di orang yang otaknya bekerja secara sekuensial. Bagus sekali bukan? Tapi satu hal dari orang-orang macam ini adalah sulit fleksibel pada kondisi yang kadang tak sesuai dengan rencana.

Semua hal yang saya katakan tentang diri sendiri: bodoh dalam matematika, ga bisa olahraga, acak-acakan, buta nada, saya tuliskan dengan gembira, tanpa ada perasaan minder. Yah, kecuali pada bagian ‘pelupa’, karena kadang-kadang bisa jadi amat menyulitkan.

Sepertinya hal itu karena -pada akhirnya- saya mampu mengakui kehebatan orang lain tanpa harus menjadi minder. Di sisi lain, saya jug menerima kekurangan diri, sekaligus tau apa yang saya banggakan dari diri sendiri. Alhamdulillah.

Saya tuliskan kata ‘pada akhirnya- karena memang pada akhirnya di usia kepala tiga, barulah saya bisa mencapai titik ini, di mana saya mensyukuri bagaimana Allah menciptakan saya. Apa adanya.

Saya merasa, ketika kita mulai menerima diri apa adanya, saat itulah kita bisa mulai ‘bersinar’. Bebas dari perasaan negatif.

Si Akang sempurna, demikian juga saya. Karena sempurna itu ada banyak caranya.

500 DAYS OF SUMMER

Sudah nonton 500 Days of Summer? Di awal film saja narator sudah bilang, “This is a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story.” Ceritanya tentang Tom yang jatuh cinta pada Summer, dan cerita tentang hubungan mereka sejak hari pertama bertemu hingga hari ke-500.

Alur film ini bolak balik dari hari ke seratus sekian, lalu ke hari pertama, lalu ke hari dua ratus sekian, lalu ke hari sekian belas, terus hingga kita mampu mengumpulkan semua keping puzzlenya menjadi satu cerita utuh.

Meskipun terpesona pada poni Joseph Gordon Levitt ^_^;, tapi yang lebih saya perhatikan adalah perbedaan nuansa yang makin jelas dalam hubungan Tom dan Summer antara hari ke-1 sampai kira-kira hari ke-200an, dengan hari-hari selanjutnya. Di awal, semua asik, semua menyenangkan, tapi setelah hari ke 300, 400, kesenangan terasa berkurang, kehangatan mulai padam, meski mereka sedang bersama-sama.

Mungkin anda juga memperhatikan, 500 hari itu sama dengan 2 tahun kurang! Yeah, it’s just a movie…. Tapi 2 tahun kurang, really?

Saya jadi teringat salah satu tulisan kontak di MP – tapi lupa lagi siapa ^_^; – bahwa lamanya sebuah hubungan bisa dilihat dari bagaimana mereka makan malam berdua. Kalau yang (diusahakan) seru dan penuh canda, itu artinya baru memulai. Yang romantis suap-suapan mungkin pengantin baru. Akhirnya yang melewati 25 tahun, tanpa bicara.

Yang tanpa bicara bukan berarti tak menyenangkan, bahkan itulah kelebihannya. Bahkan tanpa bicara, sudah merasa nyaman bersama.

Hm…. Begitukah?

Kalau dipikir-pikir memang juga sih, puluhan tahun hidup bersama, semua sudah tau, sudah paham, sudah pernah dilewati, entah bagaimana mereka bisa menghindar dari rasa bosan ^_~v

Btw, saya dan suami telah melewati 10 tahun pernikahan, 12 kalau mau dihitung sejak pertama berkenalan. Apakah kami berdua masih bisa saling bilang bahwa, “Paling enak ngomong sama kamu!”?

Eh, ada yang kepingin tahu ending 500 Days of Summer? Mengejutkan, tapi silakan tonton sendiri, hehehehe…. Eh, tapi spoiler dikit boleh kali…. ^_~:

What happened? Why – why didn’t they work out?
What always happens. Life.

CINTA YANG TAK LAGI SAMA

Saat SMP saya gemar membaca puisi cinta dari kartu bermerek ‘Harvest’ dan mengoleksi lirik lagu romantis. Cinta itu begini, cinta itu begitu, katanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat SMA hingga masa kuliah, hati saya juga merasakan gejolaknya mengiringi kisah-kisah masa muda. Cinta itu begini, cinta itu begitu, rasa-rasanya. Waktu itu saya merasa mengerti cinta, tapi ternyata belum.

Saat ini saya menikah 10 tahun, beranak 3. Saya pikir saya sudah mengerti tentang cinta sekarang, tapi ternyata masih juga belum. Paling hanya sepotong pemahaman, bahwa cinta saya telah berubah. Bukan hanya pada suami, juga pada anak. Cinta ini rasanya tak pernah lagi sama.

Saya selalu tergila-gila pada anak-anak saya setelah mereka dilahirkan. Ehm, mungkin tepatnya, setelah mereka dilahirkan dan masa baby blues berlalu ^_^;. Tapi ya, saya jatuh cinta setengah mati. Tak ingin berada jauh, tak pernah bosan menatap, selalu ingin bersentuhan, tak peduli waktu yang hilang ketika sedang bersama.

Tapi itu wajar bukan? Bayi amat mudah dicintai.

Tapi bagaimana mencintai anak ketika tantrum di pusat perbelanjaan yang ramai, ketika menumpahkan habis 600 ml sabun mandi ke dalam bak, ketika menolak masakan disiapkan dengan berkeringat, ketika menarik kerah baju adik bayinya hingga jatuh terduduk?

Tapi bagaimana mencintai anak menjelang ABG, ketika mulai keras kepala, ketika terus menyusuli semua perkataan kita dengan “Emang kenapa?”, ketika berkata “Tidak mau” dengan tegas bahkan sebelum kalimat kita selesai?

Sama halnya dengan jatuh cinta pada pemuda yang mengirimkan sms “Good night, sleep tight” setiap malam dan memberimu mawar ketika ulang tahun. Samakah cara mencintai dia ketika telah menikah sepuluh tahun?

Tidak bisa, tidak bisa cinta yang sama, yang berbunga-bunga dan penuh mimpi. Cinta ini harus berubah, menjadi lebih dewasa dan realistis. Cinta dengan kompromi dan toleransi.

Dan, saya masih merasa tak paham arti cinta.

Jadi teringat kata-kata seorang dosen saya di kampus dulu. Dia bilang, MAU itu lebih penting daripada CINTA. Jadi tak perlu menikah atas nama cinta. Yang penting dua-duanya MAU. Mau saling membantu menciptakan rumah yang hangat, mau saling mengingatkan untuk tetap berada di jalanNya, mau menemani sampai usia senja.  .

Hmmm, mungkin memang cinta tidak serumit yang saya kira ^_^.

DEAR HUSBAND

Suamiku tersayang,

Jangan melarangku nonton drama Korea ya… Aku janji tidak akan berlebihan, sampai yang lain terbengkalai atau tidak tercapai. Lagipula, kupikir ada juga kok manfaatnya.

Oh, bukan, aku tak akan bilang bahwa drama-drama itu memiliki kualitas cerita yang memperkaya jiwa atau wawasan, karena kenyataannya aku sering sekali memencet tombol fast forward untuk men-skip adegan yang tak terlalu perlu, apalagi kalau sudah menyinggung hal-hal politik atau bisnis yang rumit. Karena itu, sebenanya aku tak benar-benar paham detil ceritanya.

Juga bukan karena drama-drama itu mengajarkan tentang berbgai sisi karakter manusia, karena menurutku yang paling pertama harus diperhatikan dari drama korea adalah apakah tampang pemainnya cakep-cakep.

Juga bukan untuk belajar bahasanya, karena kamu kan juga tahu, Bahasa Inggrisku tak fasih, padahal sudah kupelajari bertahun-tahun di sekolah. Bahasa Jepang cuma seuprit, hasil belajar di supa~ dan flea market. Bahasa Arab sudah berlarian ke mana-mana, padahal gelar sarjanaku dari sana. Bahasa Indonesia kacau tertimpa tiga tata bahasa asing tersebut. Belajar Bahasa Korea? Sepertinya tidak.

Lagipula jika kupakai tiga alasan  ‘intelek’ di atas, kau juga tak akan percaya.

Jadi apa?

Because it keeps me sweet and romantic.

Huhuuuuuy……

Mengingat usia yang sudah melewati tiga puluh sekian, tentu saja aku ingin menjadi perempuan yang berpikiran matang dan lebih tegar. Tapi di sisi lain, aku senang bila ada sebagian jiwa remaja yang masih bisa ditahan untuk tetap tinggal di sini. Masih spontan dan meletup, tidak selalu tenang dan penuh perhitungan khas orang dewasa.

Dan memasuki usia pernikahan kesebelas, tentu saja kita harus menjaga diri agar tetap romantis bukan? Menyenangkan mengetahui bahwa hubungan kita masihlah sepasang kekasih, dan belum bergeser pada cinta platonik. Masih ada berbagai rasa, bukan hanya menerima. Akan ada masanya kita sampai ke sana, insya Allah, tapi jangan terlalu cepat.

Pengaruh drama korea menunjukkan pengaruhnya pada kejadian semacam ini:

Kamu:   Jadi begini, bla…. bla… bla…. (terdengar suara teman-teman sekantor di belakang)
Aku:       (memotong) I love you!
Kamu:    …………………….
Aku:      (nahan ketawa) Kok ga dijawab? Jawab dong!
Kamu:   ……………………
Aku:      (ngakak) Malu yaaaa….

Tentu saja hidup tidak seperti drama Korea. Aku tak pernah memimpikan kehidupan kita akan sedramatik itu. Tapi…. Mmm. kamu tahu Baek Seung Jo? Pasti tidak.

Tidak apa-apa kalau tidak kenal. Sini aku kasih tau, meski hidup bukan drama Korea, aku punya satu Baek Seung Jo di rumah, yang diminta menjawab kata I love you aja susah bukan main ^_^d.