IN LAWS

Naseeeeeb punya ipar badannya segede kelingking semua….

Advertisements

MARAH

Kemarin kegiatan agak padat, ditambah kehujanan di Cidodol, jadi pagi ini saya bangun dengan sakit kepala. Tapi jam 7 harus sudah ada di Senayan. Ketika sampai di rumah, kepala masih cenat cenut, sementara rumah berantakan dan belum ada makan siang. Jadilah saya masuk ke ‘senggol bacok mode’.

Dan ketika beneran ada yang nyenggol, saya marah.

Apakah ibu tak boleh marah? Beragam teori parenting kadang bener2 bikin stres orang seperti saya, merasa bahwa setalah 13 tahun jadi ibu, sepertinya saya belum juga jadi ibu yang baik.

Jadi saya marah. Saya bilang saya kesal, dan saya utarakan apa yang membuat saya kesal. Apakah saya melakukannya dengan tenang? Tentu saja tidak. Kata2 saya tajam, dan ekspresi kemarahan saya terlihat jelas.

Tentu saja seperti semua orang, saya punya batasan ketika marah. Sedapat mungkin tidak berteriak, tidak merusak, tidak menyakiti fisik, dan tidak merendahkan orang lain. Meski jujur saja, saya masih sering melewati batasan yang saya buat itu.

Tapi tidak, saya tidak merasa bersalah karena saya marah. Saya tidak merasa bersalah karena menjadi manusia.

ONCE UPON A TIME….

Once upon a time in our home….

Saya: Udah sampe mana?
Dia: Di jalan.
Saya: Bawa makanan ga? Kalo ga bawa, gue masak, nih! *ngancem*
Dia: Oke, oke. Gue bawa makanan.

Di hari lain, dia sedang dalam perjalanan pulang dari bandara, dan saya ingin jadi istri yang baik yang menghidangkan masakan buatan sendiri saat suami pulang dinas luar kota. Tapiiii….

Dia: Ada apaan, sih? *sambil masuk rumah yang penuh asap dan bau hangus*
Saya: Gue masak.
Dia: Terus?
Saya: Gosong. *nyengir*
Dia: Lagian pake masak segala…. *ngeloyor*

\(^o^)/

MASIH MOJOK BERDUA

Saya sampai di Kebayoran sekitar pukul 7 malam dan menemukan rumah sepi.

“Agung masuk kerja, May?”

Adik kedua saya ini technical engineer, yang ternyata eh ternyata jam kerjanya ga gitu jauh beda sama satpam. Kadang masuk normal kayak orang bener, kadang masuk jam sepuluh malam sampai besok paginya. Jadi ga tentu apakah dia ada di rumah atau tidak, meski di malam Minggu seperti sekarang.

Tapi kata Maya, orangnya ada.

Lalu mata saya menangkap baju lain yang diletakkan di atas kasur. “Loh, Lutfi (adik pertama) dateng, ya?”

“Iya,” kata Maya. “Tuh lagi beduaan sama Agung di depan.”

Jiaaaah…. Ternyata dua orang ini masih melanjutkan kebiasaan mojok berdua di malam minggu. Kami biasa ngumpul di rumah orang tua di malam minggu, dan sering banget begitu saya datang, yang terlihat cuma Maya dan Laily serta bocah masing-masing.

“Bapake pada ke mana ini?”

“Lagi di kamar belakang, main PS.”

Ya gitu deh, ceritanya mereka lagi mojok berdua.

Dari kecil, Lutfi memang mainnya ya sama Agung. Usia mereka beda 1, 5 tahun, yang artinya terpisah 2 angkatan, tapi teman-temannya banyak yang sama. Tapi kan setelah pada nikah semua pisah rumah, makanya kalo ketemu jadi aja mojok berdua.

Nah, nah, ini perlu disyukuri atau dicurigai? ^o^;

Tambahan lagi, belakangan mereka sedang membangun bisnis sampingan berdua. Jadi kalo kebetulan waktu luangnya berbarengan, dihabiskan berdua juga *para istri dipersilakan komplen di comment*.

Sebenarnya ini mengingatkan saya pada Difi dan Dilan. Kebetulan wajah Difi runcing seperti Lutfi, dan wajah Dilan bulat mirip Agung. Sejak peristiwa mereka dibully oleh anak tetangga, Difi dan Dilan tidak lagi main keluar. Mereka main berdua saja di rumah, seperti sudah merasa cukup dengan diri satu sama lain.

Sebenarnya menyenangkan sekali melihat ketika saudara menjadi sahabat, karena banyak orang yang lebih rukun dengan orang lain dibanding dengan dengan saudara sendiri. Padahal seperti sahabat saya bilang, “Orang lain bisa datang dan pergi, tapi keluarga tidak pernah berganti.”

*fotonya diambil dari profil facebook masing2, dan ternyata gada foto berdua (ada sih, tapi di tengah2 ada Aber, takut kalian pada ga rela ^o~)