ADAB TERHADAP AHLI ILMU

Dikisahkan, dari ribuan orang yang duduk di majelis ilmu Imam Ahmad bin Hambal, hanya ratusan yang mencatat. Sisanya mengamati adab beliau ketika menyampaikan ilmu. Begitulah bahwa dalam Islam, adab didahulukan sebelum ilmu.

Hari ini telah hadir dua guru di sekolah kami, dan jamaah menyaksikan sebagian dari adab mereka. Ketika KH. Ashim Sutardi naik ke panggung, ia terlebih dulu meminta izin KH. Tadjudin Hasan, karena akan berbicara mendahului seniornya.

Ketika KH. Tadjudin naik ke panggung, KH. Ashim mengambil tangannya dan menuntun seniornya sampai ke panggung, begitu pula ketika turun, dan setelahnya takzim mencatat ilmu langsung dari beliau (seperti terlihat dalam gambar).

Maka benarlah, dari melihat ulama kita belajar adab, mencontoh perilaku mereka, para pewaris Nabi.

Advertisements

ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

Saya pernah bilang di sini kalau saya belum selesai belajar* mengenai bagaimana Islam memandang budaya lokal, sejauh mana budaya lokal ini diterima atau dihilangkan. Sampai kemarin si Akang selesai dari pengajian dan saya membaca materinya.

Bahwa prinsip utama ajaran Islam disebut amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada kemunkaran.

Manusia tidak perlu diajari untuk membenci segala yang buruk, baik berupa fisik seperti hal2 kotor dan bau, maupun nonfisik seperti niat jahat, pikiran buruk, kesesatan fikir, dan perilaku merugikan. Semua itu adalah hal yang diingkari oleh fitrah dan akal manusia, sesuatu yang MUNKAR.

Sebaliknya, manusia secara fitrah akan menyukai sesuatu yang MA’RUF, yaitu yang diketahui oleh akal dan nurani sebagai suatu keindahan, kebaikan, kebersihan.

Maka orang yang tidak menerima hal yang ma’ruf dan justru menyukai hal yang munkar disebut dengan KAFIR, yang artinya tertutup, yakni tertutup akal sehat dan fitrahnya.

Adat istiadat dalam bahasa Arab disebut ‘URF, yang memiliki akar kata yang sama dengan kata Ma’ruf. Karena ‘Urf adalah sesuatu yang juga dikenali, diarifi, diterima oleh kebanyakan manusia.

Maka adat dan ajaran Islam berkesesuaian dalam sama2 mengajak kepada sesuatu yang dikenali dan disukai secara alami oleh fitrah suci manusia, yang dibenarkan oleh akal sehat dan hati yang bersih.

Praktek ibadah dalam Islam tidak sama sekali baru dan berlainan dengan adat istiadat masyarakat Arab saat itu (disertakan riwayat2nya tapi terlalu paniang untuk ditulis di sini). Namun Islam membersihkan apa yang baik, mengembalikannya pada ketauhidan, dan meninggalkan apa yang buruk.

Dengan keterbatasan akal manusia, bagaimana menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk? Maka dari itu semua dituntun oleh Allah swt dan dicontohkan oleh RasulNya.

Adat istiadat adalah local wisdom yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan telah melewati proses trial error yang panjang. Bentuk kearifan lokal ini bisa berbentuk rumah panggung atau kain batik, sesuatu yang paling cocok bagi iklim dan kepribadian orang2 yang tinggal di daerah tropis. Maka kearifan itu tetap kita pelihara.

Namun adat yang membelenggu fitrah dan akal sehat, dan hal2 yang menyebabkan kerusakan bagi kehidupan, sudah tak perlu diperdebatkan lagi harus dihilangkan.

Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan orang2 yang Dia berikan nikmat, bukan jalan orang2 yang dimurkai dan sesat.

###

*sambil memohon agar Allah menjauhkan saya dari hawa nafsu.

 

I LOVE JESUS (because I’m a moslem)

Di rumah orang tua saya, salah satu yang tersedia untuk ta’jil bukan tamr (kurma kering), melainkan ruthab. Ruthab adalah kurma segar yang belum terlalu matang, jadi manisnya sedang dengan sedikit rasa sepat.

Ruthab terekam dalam Kitab suci kami sebagai penghiburan dan makanan yang ditunjukkan Allah bagi Maryam ‘alayhassalam (The Virgin Mary) ketika melahirkan Al-Masih Isa (QS 19: 25).

Mengenang hal tersebut, di lingkungan saya, ruthab adalah hadiah bagi ibu yang baru melahirkan.

ruthab

Beberapa hari yang lalu saya menulis status di atas, dan kebetulan ada share ini dari Mba Ade Alfiah di wall saya. Artikel menarik dari Karen Amstrong yang membuat saya ‘ngeh’ bahwa kebiasaan menghadiahkan ruthab untuk ibu melahirkan adalah penghormatan pada Maryam as dan putranya.

Mematuhi Kitab suci saya, QS. 3: 84, maka benar jika saya berkata, I love Jesus, because I’m a moslem.

Lukisan Maria & Bayi Yesus di Dinding Ka’bah
By Karen Armstrong*

Pada 632 M, setelah lima tahun peperangan yang hebat, Kota Mekkah di Hijaz, Semenanjung Arabia, secara sukarela membuka gerbang untuk pasukan Muslim. Tidak ada darah ditumpahkan dan tidak ada orang yang dipaksa untuk menjadi Muslim, tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan penghancuran seluruh berhala dan patung Ketuhanan. Terdapat sejumlah lukisan dinding pada dinding-dinding bagian dalam Ka’bah, tempat suci kuno di tengah Mekkah, dan salah satunya, konon diriwayatkan, menggambarkan Maria dan bayi Yesus. Segera, Muhammad saw menutupinya dengan jubahnya dengan penuh hormat, memerintahkan agar semua lukisan yang lain dihilangkan kecuali yang satu itu.

Kisah ini boleh jadi akan mengejutkan orang-orang di Barat, yang kadung memandang Islam sebagai musuh yang tidak dapat didamaikan dengan Kristen sejak Perang Salib. Namun, adalah sangat konstruktif untuk mengingat kisah tersebut, terutama selama Natal, ketika kita dikepung oleh gambar-gambar yang serupa tentang Sang Perawan dan Anak Sucinya. Kisah itu mengingatkan kita bahwa apa yang disebut “benturan peradaban” sama sekali bukan tidak bisa dielakkan. Selama berabad-abad, Muslim mencintai figur Yesus yang dihormati di dalam al-Quran sebagai salah satu nabi terbesar dan, di dalam tahun-tahun perkembangan Islam, menjadi salah satu bagian utama dari identitas Muslim.

Terdapat pelajaran penting di sini, baik bagi orang Kristen maupun Muslim—terutama barangkali pada saat-saat Natal seperti ini. Al-Quran tidak meyakini Yesus sebagai tuhan tetapi ia mempersembahkan lebih banyak ruang bagi kisah tentang konsepsi dan kelahiran sucinya dibandingkan apa yang dikisahkan Perjanjian Baru. Al-Quran menyajikannya dengan kekayaan simbolis mengenai kelahiran Roh Kudus di dalam setiap manusia (QS. 19:17-29; 21:91). Seperti para nabi agung lainnya, Maria menerima Roh Kudus dan mengandung Yesus, yang pada gilirannya akan menjadi sebuah bukti (ayat): sebuah pesan perdamaian, kelembutan, dan kasih sayang kepada dunia.

Al-Quran dikejutkan oleh klaim-klaim Kristen bahwa Yesus adalah “putra Allah”, dan kemudian dengan bersemangat melukiskan Yesus demi menyangkal ketuhanannya dalam upaya “membersihkan” dirinya dari proyeksi-proyeksi yang tidak layak tersebut. Berkali-kali, al-Quran menekankan bahwa, seperti juga Muhammad sendiri, Yesus adalah seorang manusia biasa yang sempurna dan bahwa orang Kristen sama sekali telah salah dalam memahami teks-teks suci mereka sendiri. Namun, al-Quran juga mengakui bahwa orang-orang Kristen yang paling setia dan terpelajar—terutama adalah para pendeta dan imam—tidak meyakini ketuhanan Yesus; dari semua hamba Tuhan, merekalah yang paling dekat dengan Muslim (QS. 5:85-86).

Harus dikatakan bahwa beberapa orang Kristen mempunyai pemahaman yang sangat sederhana dari apa yang dimaksud dengan penjelmaan. Ketika para penulis Perjanjian Baru, Paulus, Matius, Markus, dan Lukas menyebut Yesus sebagai “Anak Allah”, mereka tidak memaksudkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka menggunakan istilah itu dalam makna Ibraninya: di dalam Alkitab Ibrani, sebutan tersebut biasa dianugerahkan kepada manusia biasa yang fana, seperti seorang raja, imam, atau nabi—yang telah diberi tugas khusus oleh Allah dan menikmati keakraban yang tidak biasa dengan-Nya. Di seluruh Injilnya, Lukas justru selaras dengan al-Quran, sebab ia secara konsisten menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Bahkan Yohanes, yang memandang Yesus sebagai penjelmaan Firman Allah, membuat suatu pembedaan, sekalipun hanya dalam satu ungkapan yang sangat bagus, antara “Firman” dengan Allah Sendiri—seperti halnya kata-kata kita yang terpisah dari esensi keberadaan kita.

Al-Quran menekankan bahwa semua agama yang benar dan terbimbing berasal dari Allah, dan Muslim diwajibkan untuk mengimani wahyu-wahyu dari setiap kata para utusan Allah: Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri” (QS. 3:84). Dan, Yesus—yang juga disebut Mesiah—Sang Firman dan Roh Kudus—mempunyai status khusus.

Yesus, bagi al-Quran, mempunyai hubungan yang dekat dengan Muhammad, dan telah meramalkan kedatangannya (QS. 61:6), sama seperti para nabi Ibrani yang dipercaya oleh orang Kristen sebagai telah menubuatkan kedatangan Kristus. Al-Quran menolak bahwa Yesus telah disalibkan dan memandang kenaikannya ke surga sebagai pernyataan keberhasilan dari misi kenabiannya. Dengan cara yang serupa, Muhammad suatu ketika secara mistik naik ke Singgasana Tuhan. Di samping Muhammad, Yesus juga akan memainkan suatu peran yang sentral dalam drama eskatologis pada hari akhir.

Selama tiga abad pertama dari Islam, Muslim telah menjalin hubungan yang dekat dengan orang Kristen di Irak, Syiria, Palestina, dan Mesir, dan mulai mengoleksi ratusan riwayat dan perkataan yang berhubungan dengan Yesus; suatu koleksi yang tidak ada bandingannya di dalam agama non-Kristen manapun. Sebagian ajaran tersebut dengan jelas berasal dari Injil—terutama Khotbah di atas Bukit yang sangat populer tetapi ditampilkan dengan gaya Muslim. Yesus digambarkan melakukan ritual haji, membaca al-Quran, dan melakukan sujud dalam doanya.

Dalam riwayat-riwayat yang lain, Yesus mengartikulasikan secara terperinci apa yang menjadi perhatian Muslim. Dia telah menjadi salah satu teladan agung bagi para sufi Muslim, yang mengajarkan hidup sederhana, kerendahan hati, dan kesabaran. Kadang-kadang Yesus memihak satu kelompok dalam sebuah perselisihan teologis atau politis: membariskan dirinya bersama mereka yang mendukung kehendak bebas di dalam perdebatan mengenai takdir; memuji Muslim yang berdamai dengan prinsip politiknya (“Ketika para raja memberikan kebijaksanaan kepada kalian, maka sebaiknya kalian tinggalkan dunia untuk mereka”); atau mengecam para ulama yang melacurkan ajarannya demi keuntungan politis (“Janganlah kamu hidup dari Kitab Tuhan”).

Yesus telah diinternalisasi oleh Muslim sebagai teladan dan inspirasi dalam pencarian spiritual mereka. Muslim Syiah merasa bahwa ada suatu koneksi kuat antara Yesus dengan imam-imam mereka yang menerima ilham, memiliki kelahiran-kelahiran yang ajaib, dan mewarisi pengetahuan propetik dari ibu-ibu mereka. Para Sufi terutama mengabdikan diri mereka kepada Yesus dan menyebutnya sebagai “nabi cinta”. Mistikus ternama Abad ke-12 M, Ibn al-Arabi, menyebut Yesus sebagai “penutup orang-orang kudus”—secara sengaja disandingkan dengan Muhammad sebagai “penutup para nabi”.

Cinta Muslim kepada Yesus adalah contoh yang luar biasa dari cara bagaimana sebuah tradisi dapat diperkaya oleh tradisi yang lain. Ini tidak berarti bahwa orang-orang Kristen harus membayar pujian tersebut. Sementara Muslim mengoleksi riwayat-riwayat mereka mengenai Yesus, sarjana-sarjana Kristen di Eropa justru menghujat Muhammad sebagai seorang pemuja seks dan penipu ulung, yang sangat menyukai kekerasan. Namun, pada hari ini, baik Muslim maupun orang Kristen sama bersalahnya atas sikap fanatik semacam itu dan seringkali juga lebih suka untuk melihat hanya bagian terburuk dari satu sama lain.

Cinta Muslim kepada Yesus menunjukkan bahwa hal itu tidak harus selalu menjadi situasinya. Pada masa lalu, sebelum terjadinya kekacauan politik dari modernitas, Islam selalu mampu melakukan koreksi diri. Tahun ini, pada hari kelahiran Jesus, mereka mungkin dapat bertanya kepada diri mereka sendiri bagaimana mereka dapat menghidupkan kembali tradisi panjang mereka berkaitan dengan pluralisme dan penghargaan kepada agama-agama yang lain. Ketika merenungi empati Muslim terhadap iman mereka, orang-orang Kristen sebaiknya melihat kembali masa lampau mereka sendiri dan mempertimbangkan apa yang mungkin dapat mereka lakukan untuk membalas rasa hormat ini.

* Artikel ini dikutip dari harian Inggris the Guardian edisi 23 Desember 2006.

* Karen Armstrong adalah penulis buku Muhammad: a Prophet for Our Time.

Dua riwayat tersebut dan riwayat-riwayat yang bermakna serupa dapat ditemukan dalam Tarif Khalidi, The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, Harvard University Press, Cambridge, 2001.

ORANG-ORANG YANG MENYAMANKAN HATI

Sudah lama saya mencoba memahami kata DAKWAH, dan sampai hari ini sepertinya belum juga selesai. Saya tau dakwah itu artinya ajakan, tapi bagaimana cara mengajak itu selalu jadi pertanyaan bagi saya.

Di masa muda, saya selalu bersungut-sungut ketika merasa sedang didakwahi, ketika ada yang tiba-tiba mendekati untuk motif tertentu oleh berbagai kelompok berbeda. Yah, mungkin itu rasa tidak nyaman itu hanya hasil dari hati yang suudzon dan ego masa muda.

Ada orang-orang pintar dan hebat yang selalu mebuat saya takut berada di dekat mereka. Saya selalu merasa kurang; kurang taat,  atau malah kurang open-minded. Kurang baca, atau malah kurang gaul. Dan seterusnya. Karena merasa kurang ini, saya cenderung tidak jadi diri sendiri, jadi tampil sok terbuka, atau sok taat, atau sok tau, atau sok kritis.

Di sisi lain, saya beruntung menemukan orang-orang yang nyaman saya ajak bicara. Dari tampilan fisik, mereka jauuuuh lebih taat dibanding saya. Katakan saja, saya belum siap untuk berpenampilan seperti mereka.  Tapi di depan orang-orang ini, saya tidak takut untuk jadi diri sendiri, apa adanya menunjukkan kalau saya memang sebandel ini sekarang, dan banyak hal yang sedang ingin saya pahami. Saya merasa mereka mau menunggu dengan sabar, meladeni pertanyaan dan kelakuan konyol saya, dan bukan terburu-buru mencekoki.

Nyaman.

Jadi kalaupun mereka punya motif sendiri dalam hubungan persahabatan ini, yaitu mendakwahi saya secara halus atau apalah, saya sepertinya tidak keberatan. Dan dititik ini, saya mendapat sedikit pencerahan tentang apa itu dakwah.

Hati dulu yang terhubung, barulah ajakan bisa nyambung.

Sebagai orang tua dan guru, inilah yang saya inginkan. Menjadi seperti orang-orang itu, yang terhadap saya anak-anak bisa bandel tapi tetap mendengarkan, yang bersedia menunggu proses itu terjadi dengan alami atas kesadaran dan motivasi intrinsik, bukan karena iming-iming dari ancaman dari luar.

IKHLAS BELAJAR

Sejak 2004 hingga 2011, berarti hampir 7 tahun. Ya selama itu saya merasa tidak memiliki teman dekat seperti saat sekolah atau kuliah. Saya kesulitan berkomunikasi secara intens dengan sahabat-sahabat lama, alasannya terutama karena jarak dan kesibukan sebagai ibu rumah tangga. Saya kemudian bekerja di pertengahan 2006, tapi tetap tak berteman dengan satu pun rekan sejawat di kantor.

Sekitar tahun 2011, saya menemukan orang-orang ini. Dan akhirnya sekarang merasa punya teman dekat lagi.

Perbedaan di antara kami membuat saya banyak belajar dan banyak merenung kembali. Ada ibu bekerja di luar rumah, ada ibu rumah tangga. Ada yang hobi masak, hobi belanja, hobi nulis, hobi dagang, dan hobi gadget. Juga perbedaan keyakinan: sunni, syiah, protestan, dan perenial.

Karena kenal dengan orang-orang ini secara pribadi, saya belajar lebih banyak memahami, tak cepat menghakimi, dan berusaha melihat segala hal dengan lebih dekat. Saya mencoba membuka pikiran dan melihat dari berbagai sudut pandang. Dan yang terpenting, saya jadi menyadari bahwa sangat sedikit yang saya tau, dan karena itu, saya harus melatih diri agar tak tinggi hati.

Setelah melewati masa sekolah di lingkungan yang relatif homogen, dunia semakin luas ketika saya bertemu dengan banyak macam orang di kampus. Tapi inilah aneh dan konyolnya makhluk bernama kebodohan, yaitu bisa membuat seseorang jadi sombong dan sok tau. Itulah yang terjadi pada saya. Akibatnya, ketika kuliah tak banyak hikmah yang dapat saya ambil. Malu.

Jadi saya ingin memulai lagi: BELAJAR. Mencari kebenaran. Meski rasanya takut meninggalkan zona nyaman di mana saya tak perlu berpikir, jalani saja seperti yang dilakukan orang-orang tanpa banyak tanya. Tapi suami mengizinkan, dan teman-teman menyemangati. Kata mereka, yang penting ikhlas, yaitu murni untuk mencari Allah. Tidak seperti zaman mahasiswa dulu, diskusi untuk menang, agar dilihat sebagai orang yang progresif dan cerdas, untuk mempengaruhi orang lain, atau apalah. Kalau ikhlas, insya Allah dibimbing, ditunjukkan jalannya, dan diberi penjagaan dari kesesatan.

Diberi kesempatan bertemu dan berteman dengan bermacam-macam orang, saya berhusnudzan bahwa Allah sedang menginginkan kebaikan untuk saya.

SEHARUSNYA ATAU SEBISANYA?

Sebenarnya saya ga ngerti juga sih, itu komentar ditujukan pada saya atau bukan. Tapi gimana juga, terlanjur masuk ke pikiran, jadi hayo deh kita masukkan dalam hal yang bergentayangan di otak saat pas lagi bengong.

Jadi ceritanya, sekumpulan orang itu sedang bicara tentang sistem negara. Nnggg… kayaknya sih^_^;, hehehe. Saya ditag sama yang empunya status, padahal dia juga tau, saya udah ga napsu ikut-ikut pergulatan pemikiran kayak jaman mahasiswa dulu. Jadi saya nulis komentar: silakan atuh diurus, saya masih sibuk ngurus anak-anak, baik anak sendiri maupun anak didik. Yang pinter-pinter ngurusin negara, saya ngurusin yang kecil-kecil di depan mata. Jadi, semua ada yang ngurusin.

Eh, terus di bawah saya ada yang komen jaka sembung pake huruf kapital semua. Ini orang ga tau netiket atau sengaja yah? Tapi karena saya menganggapnya jaka sembung, ya saya ga pikirin. Bukan buat saya kali. Yang saya pikirin justru komen setelahnya, bahwa kalau beramal itu yang ‘seharusnya’, jangan ‘sebisanya’.

Bener bener bener, kata ‘sebisanya’ ini emang empuk banget dijadikan alasan. Belum nutup aurat, sebab bisanya baru berpakaian sopan. Solat masih bolong-bolong, karena bisanya baru segini. Dan seterusnya…

Tapi namanya orang, saya pasti ngeyel kalo dibilangin, ga rela pendapat saya dipatahkan begitu saja. Jadi kesel deh, hohohoho…. Kalo kesel, saya ga bales komen (udah baca tulisan saya sebelumnya tentang Si Baik Hati?), tapi misuh-misuh sendiri di blog.

Eeeee…. bukan karena saya ga mau jadi asertif yah (padahal emang ^_~v), tapi karena saya emang lola alias loadingnya lama. Kalo ada masalah , prosesornya a cemerlang untuk segera mengeluarkan solusi cerdas.

Saya ini homeschooler mom, dengan 3 anak yang hampir 24 jam selalu di rumah. Untuk bekerja saja sebenernya keberatan, tapi masih dibisa-bisain karena satu dan lain hal. IMHO, ibu idealnya selalu di rumah. ditambah ngurusi ratusan anak di sekolah, kayaknya udah refot. So, i’m not that good, Boss. Ga bisa kayaknya ngurus anak-anak, sekaligus ngurus sistem negara juga.

Tapi tapi tapi, mungkin ada orang-orang yang bisa, gitu loh. Dan acung jempol untuk mereka yang aktif di partai atau pergerakan. Barangkali suatu hari mungkin saya juga diberi kesempatan itu, karena yah, semakin tinggi jabatan, semkin sedikit krentilan-krentilan yang diurus, bukan? Jadi mungkin saja nanti saya juga akan ikutan berjuang di tataran yang lebih global, amiiin….

Nah, apa sekarang saya tidak melakukan yang seharusnya? Hiks, sedih aja kalo ada yang bilang kayak gitu. Saya (berusaha) mendidik anak-anak sendiri supaya jadi muslim yang kuat. Saya (berusaha) memberi kontribusi pada beberapa ratus anak bangsa, ikut berupaya bersama elemen bangsa yang lain, agar mereka bukan cuma menghapal tapi juga menghidupkan agama mereka, agar mereka berkembang jiwanya dan akalnya, agar mereka ga pacaran kebablasan, ga mendekati narkoba dan miras, juga agar mereka tau tau ada kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat dibanding ngerokok dan nonton video porno.

Yang saya lakukan tidak besar, masih banyak kekurangan, tapi saya merasa sudah melakukan yang seharusnya.

Tentu saja, sebisa saya.

JILBAB PERTAMA

“Mbak, gimana sih naikin semangat ibadah kalo pas lagi males,” saya bertanya pada mentor saya.
“Kalo mbak sih, biasanya suka mengingat lagi perasaan ketika pertama kali pakai jilbab. Gimana semangatnya, gimana susahnya…”
“Tapi…,” kata-kata saya hanya menggantung di udara.

Membaca cerita banyak orang tentang cerita jilbab pertama mereka, saya tak urung merasa iri. Benar, iri. Bukan karena saya tidak berjilbab, tapi karena saya tidak memiliki pengalaman dengan jilbab pertama.

Ketika saya kecil, sebelum masuk sekolah, Mama mendandani saya dengan gamis. Ya, gamis. Sementara teman-teman saya memakai baju main yang pendek, saya memakai baju lengan panjang terusan model princess yang lebar. Bila pergi-pergi, jilbab kecil diletakkan Mama di kepala saya.

Saya masuk SD Islam, sehingga tiap hari pakai jilbab. Selepas SD, saya dimasukkan pondok pesantren, dan tentu saja selalu pakai jilbab. Setelah tiga tahun di pesantren, saya ingin masuk SMA negeri, tapi tak diizinkan orang tua, hingga saya menghabiskan masa SLTA di sebuah madrasah aliyah swasta. Lagi-lagi pakai jilbab. Kuliah? Saya memang masuk universitas negeri, tapi di jurusan sastra Arab. (Hampir) semua perempuan di jurusan saya berjilbab, besar pula.

Jadi, jilbab pertama yang mana? Pengalaman rohani apa? Hambatan dan penolakan apa? Momen istimewa apa?

Saya tidak mengerti tentang semua itu, karena tak pernah mengalami. Sampai saya kuliah, jilbab bukanlah sesuatu yang istimewa bagi saya. Ia hanya sebuah… yah, kebiasaan. Tidak enak bila tidak dipakai, seperti orang yang biasa memakai jam tangan atau mencangklong tas ransel.

Di bangku kuliah, barulah saya menemukan lingkungan yang lebih heterogen. Saya sempat jumawa, karena jilbab sudah saya pakai dari kecil, nahwu al-wadhih dilalap sejak kelas 4 SD, belajar ushul fiqh dari kelas 3 SMP, lalu kok orang-orang ini, yang baru saja berjilbab ini, berani-beraninya menceramahi saya (padahal gada hubungannya).

Tapi kesombongan saya kena batunya. Ternyata jilbab istimewa bagi teman-teman itu, karena mereka mulai mengenakannya ketika sudah dewasa. Hal itu menjadikan perhatian mereka pada ilmu yang berkenaan dengan jilbab malah tak saya punya. Bayangkan, saya baru tahu kalau saya tak boleh membuka jilbab di depan sepupu di rumah, atau teman saya yang non muslim.

Saya malu, saya mengaku salah. Bertahun-tahun belajar ilmu agama secara formal, akhirnya cuma berujung pada kesombongan yang bertambah. Itu bukan tanda ilmu yang berkah. Ilmu yang tak berkah tak akan berbuah hikmat, apalagi manfaat. Saya sungguh-sungguh belum tahu banyak, dan kesombongan hanyalah tanda kekerdilan jiwa.

Namun demikian, dikelilingi orang-orang berjilbab besar tetap tak merubah gaya berpakaian saya. Saya memang tak pernah memakai baju ketat dan mengikat jilbab di belakang, tapi tak pernah juga memanjangkan jilbab terlalu jauh dari bahu dan memakai jubah. Beberapa teman yang tadinya berjilbab, bahkan lebar, membiarkan rambut mereka terbuka lagi, sementara teman yang tak berjilbab malah menutup rapi auratnya, bahkan menutup wajah dengan cadar. Saya? Saya tak berubah.

Seorang teman aktifis lembaga dakwah kampus pernah berkata santai pada saya, “Irma, gini-gini aje, lu.” Yang dia maksud pastilah penampilan saya.
Saya jawab, “Ini namanya kemampuan mempertahankan identitas.”

Benarkah begitu?

Menulis blog kali ini bikin air mata saya merembes-rembes. Bagaimanapun, saya ingin juga merasakan momen itu, kemantapan hati itu, kesiapan lahir bathin itu. Saya jadi bertanya lagi, dan lagi, kapankah ‘jilbab pertama’ saya akan datang. Jilbab yang ketika saya memakainya, dikarenakan hanya satu hal: saya ingin Allah cinta saya. Hanya didasari ketundukan, bukan karena kebiasaan, bukan karena lingkungan, apalagi suruhan orang.

Apakah saya, yang masih dengan gaya jilbab seperti dulu, sudah benar? Apakah masih salah? Apa saya harus memakai jubah dan melebarkan jilbab saya? Apakah saya harus menutup wajah juga dan mengganti warna pakaian saya? Apakah mengikuti pendapat yang ini, atau yang itu?

(Mana yang bisa mengantarkanku padaMu, Rabbi….)

Banyak hal yang masih saya tidak mengerti. Tapi ada rasa yang berdentam di hati ini. Mungkin namanya rindu. Rindu yang belum bisa saya pahami. Tapi sialnya, menyimpan rindu itu perih ternyata.
###