MARAH

Kemarin kegiatan agak padat, ditambah kehujanan di Cidodol, jadi pagi ini saya bangun dengan sakit kepala. Tapi jam 7 harus sudah ada di Senayan. Ketika sampai di rumah, kepala masih cenat cenut, sementara rumah berantakan dan belum ada makan siang. Jadilah saya masuk ke ‘senggol bacok mode’.

Dan ketika beneran ada yang nyenggol, saya marah.

Apakah ibu tak boleh marah? Beragam teori parenting kadang bener2 bikin stres orang seperti saya, merasa bahwa setalah 13 tahun jadi ibu, sepertinya saya belum juga jadi ibu yang baik.

Jadi saya marah. Saya bilang saya kesal, dan saya utarakan apa yang membuat saya kesal. Apakah saya melakukannya dengan tenang? Tentu saja tidak. Kata2 saya tajam, dan ekspresi kemarahan saya terlihat jelas.

Tentu saja seperti semua orang, saya punya batasan ketika marah. Sedapat mungkin tidak berteriak, tidak merusak, tidak menyakiti fisik, dan tidak merendahkan orang lain. Meski jujur saja, saya masih sering melewati batasan yang saya buat itu.

Tapi tidak, saya tidak merasa bersalah karena saya marah. Saya tidak merasa bersalah karena menjadi manusia.

SELERA

Tempo hari ada yang manggil2, “Irma sini sini, pilih mau parfum apa, nanti aku bayarin.”

Lah jadi bingung, saya kan ga suka parfum. Selama ini yang deket2 saya diem2 tutup idung kali yah… 😁

“Oh kalo ga suka parfum, pilih tas aja noh!”

Saya nyengir aja, soalnya ga suka tas juga. Akhirnya milih dibeliin coklat.

Aih tawadhu banget yah si Irma. Yahahaha, nggalah. Belum sampe ke situ maqom saiah. Cuma bukan selera di parfum, tas dan sepatu aja. Tapi saya demen sama baju, sampe2 suami suka protes karena lemari udah sesak. Nasibmu Akang, punya istri bukannya maniak buku malah maniak baju. Padahal baju keren kayak apa juga pas dipake sama saya yg fluffy *halah* ini jadi yah gitu deh 😁

Kemaren di kereta ngobrol sama temen, sungguh kami salut sama yang pake niqob. Bisa menahan banyak keinginan duniawi. Doakan kami agar dapat hidayah yah.

Kemaren ada yang nanya tentang perawatan muka saya. Eh jadi malu karena minimalis banget. Standarnya sabun muka, tabir surya dan lipgloss SPF. Udah gapake apa2 lagi. Pernah beli2 krim mahal, eh lupa mulu makenya.

Nah ini jadi masalah pas mau pergi ke resepsi2 resmi kayak acara besok. Kalang kabut nyari lipstik, dan baru nyadar kalo alas bedak yg saya pake tahun lalu bakal dipake lagi tahun ini. Lah ga abis2 ternyata, udah expired belon yak

REWEL

Seorang ibu mencoba menenangkan balitanya yang rewel si dalam angkot yang panas dan jalanan yang macet. Kasihan, tapi bingung bagaimana saya bisa membantu. Akhirnya saya tersenyum pada ibunya, untuk memberi tau kalau saya tidak keberatan sepatu anaknya menendang-nendang dan mengotori celana putih saya.

Saya pernah mengalami hal yang persis sama waktu anak2 kecil dulu, dan seorang ibu setengah baya marah karena terciprat sedikit air putih dari botol minum yang saya pegang sambil memegang bayi yang sedang rewel dan menenangkan dua kakaknya.

Tiap orang harusnya mempermudah tiap kondisi untuk ibu dengan bayi/balita. Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia.

TRYING TO FIGURE IT OUT

Saya ini lahir ga cakep2 amat, ga pinter2 amat, ga kaya2 amat, ga hebat2 amat, ga beda2 amat. Tapi seharusnya Allah telah menyediakan bagi orang biasa2 seperti saya ini satu tempat dalam kehidupan, di mana saya berharga bagi beberapa orang; dicintai dan bermanfaat. Dan sepanjang hidup, saya akan terus dan masih mencari tempat yang Allah sediakan untuk saya itu.
Selain itu, karena Allah sayaaaaang sama saya, saya percaya 100% Dia telah menciptakan beberapa orang di kehidupan ini, di mana potongan jiwa mereka pas dipasangkan dengan jiwa saya; pasangan hidup, keluarga, sahabat. Dan sepanjang hidup, saya akan dan masih terus mencari orang2 yang Allah ciptakan untuk saya itu.

ONCE UPON A TIME….

Once upon a time in our home….

Saya: Udah sampe mana?
Dia: Di jalan.
Saya: Bawa makanan ga? Kalo ga bawa, gue masak, nih! *ngancem*
Dia: Oke, oke. Gue bawa makanan.

Di hari lain, dia sedang dalam perjalanan pulang dari bandara, dan saya ingin jadi istri yang baik yang menghidangkan masakan buatan sendiri saat suami pulang dinas luar kota. Tapiiii….

Dia: Ada apaan, sih? *sambil masuk rumah yang penuh asap dan bau hangus*
Saya: Gue masak.
Dia: Terus?
Saya: Gosong. *nyengir*
Dia: Lagian pake masak segala…. *ngeloyor*

\(^o^)/

LAGI NYESEK?

Mmm….. khawatir salah persepsi nih.

Saya bukan mau bilang, “Ayo pada resign!”, karena saya juga bekerja di luar rumah sampai saat ini. Lagipula, banyak sekali ibu yang bisa meraih pencapaian pribadi dalam pendidikan dan karir, tanpa perlu melewatkan masa perkembangan anak-anak.

Tapi memang benar, ada masa ketika saya ‘nyesek’ ngeliat rekan sejawat berkesempatan meningkatkan profesionalisme, ketika ada teman mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri, atau ketika teman memajang hasil crafting yang unyu, sementara saya cuma bisa ngiler karena ada 3 anak yang masih kecil dan tidak ada yang bisa dititipi.

Lalu sepuluh tahun berlalu, yang bungsu sudah mulai mandiri, yang tengah sudah tak perlu diawasi, yang sulung sudah bisa menjaga adik-adiknya. Dengan mengompromikan jadwal dengan suami, saya bisa ikut kelas crafting sesekali, datang ke beberapa acara workshop dan seminar kependidikan, juga mulai mengambil tantangan baru dalam pekerjaan.

Menunggu sepuluh tahun untuk kembali ke dunia persilatan, ternyata saya ga banyak kehilangan juga, kok. Sekarang saya memang bukan pakar, ga terkenal, ga kaya dari segi pendidikan, karir dan hobi, tapi somehow saya merasa seimbang, dan fulfilled. Ga penasaran, gitu.

Alhamdulillah….

BERANI

Saya sadar harus berhenti berpikir bahwa hal-hal baik ini akan terus ada. Bahwa orang-orang akan berada di sisi, setia selamanya. Bahwa saya akan terus dipekerjakan, atau terus jauh dari bencana.

Kehilangan pasti akan terjadi, perubahan itu pasti.

Saya harus mulai membiasakan diri untuk tidak bergantung pada manusia, meski pada orang tua, suami, atau anak sendiri. Suatu saat mungkin saya harus berjalan sendirian, tidak ada yang menopang, tidak ada yang bisa diandalkan, maka saya memohon agar Allah memberi saya kelapangan hati untuk melepaskan masa lalu dan kekuatan untuk terus melangkah dengan berani.