ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

Saya pernah bilang di sini kalau saya belum selesai belajar* mengenai bagaimana Islam memandang budaya lokal, sejauh mana budaya lokal ini diterima atau dihilangkan. Sampai kemarin si Akang selesai dari pengajian dan saya membaca materinya.

Bahwa prinsip utama ajaran Islam disebut amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada kemunkaran.

Manusia tidak perlu diajari untuk membenci segala yang buruk, baik berupa fisik seperti hal2 kotor dan bau, maupun nonfisik seperti niat jahat, pikiran buruk, kesesatan fikir, dan perilaku merugikan. Semua itu adalah hal yang diingkari oleh fitrah dan akal manusia, sesuatu yang MUNKAR.

Sebaliknya, manusia secara fitrah akan menyukai sesuatu yang MA’RUF, yaitu yang diketahui oleh akal dan nurani sebagai suatu keindahan, kebaikan, kebersihan.

Maka orang yang tidak menerima hal yang ma’ruf dan justru menyukai hal yang munkar disebut dengan KAFIR, yang artinya tertutup, yakni tertutup akal sehat dan fitrahnya.

Adat istiadat dalam bahasa Arab disebut ‘URF, yang memiliki akar kata yang sama dengan kata Ma’ruf. Karena ‘Urf adalah sesuatu yang juga dikenali, diarifi, diterima oleh kebanyakan manusia.

Maka adat dan ajaran Islam berkesesuaian dalam sama2 mengajak kepada sesuatu yang dikenali dan disukai secara alami oleh fitrah suci manusia, yang dibenarkan oleh akal sehat dan hati yang bersih.

Praktek ibadah dalam Islam tidak sama sekali baru dan berlainan dengan adat istiadat masyarakat Arab saat itu (disertakan riwayat2nya tapi terlalu paniang untuk ditulis di sini). Namun Islam membersihkan apa yang baik, mengembalikannya pada ketauhidan, dan meninggalkan apa yang buruk.

Dengan keterbatasan akal manusia, bagaimana menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk? Maka dari itu semua dituntun oleh Allah swt dan dicontohkan oleh RasulNya.

Adat istiadat adalah local wisdom yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan telah melewati proses trial error yang panjang. Bentuk kearifan lokal ini bisa berbentuk rumah panggung atau kain batik, sesuatu yang paling cocok bagi iklim dan kepribadian orang2 yang tinggal di daerah tropis. Maka kearifan itu tetap kita pelihara.

Namun adat yang membelenggu fitrah dan akal sehat, dan hal2 yang menyebabkan kerusakan bagi kehidupan, sudah tak perlu diperdebatkan lagi harus dihilangkan.

Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan orang2 yang Dia berikan nikmat, bukan jalan orang2 yang dimurkai dan sesat.

###

*sambil memohon agar Allah menjauhkan saya dari hawa nafsu.

 

JENIUS

Beberapa hari yang lalu Dhiya Fissilmie nonton Genius with Stephen Hawkings di NatGeo, episode Are We Alone.

Acaranya menarik karena di situ ditampilkan 3 relawan yang bukan ilmuwan dan tidak belajar tentang fisika dan astronomi. Mereka diberi barang2 sebagai model dari alam raya dan sedikit informasi sebagai pemicu, lalu dibiarkan mencari penjelasan sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Hasilnya, mereka menemukan sendiri teori2 yang ditemukan para fisikawan dan astronomer. Hal ini, menurut Stephen Hawkings, adalah bukti bahwa orang2 jenius itu ada di mana2. Dan banyak sekali jumlahnya.

Kesimpulan Dhifie adalah: “Kita bisa jadi jenius, jika kita mau.”

‘Jika kita MAU’, saya manggut2 karena terjawablah satu pertanyaan kecil saya. Bertemu kembali di medsos dengan teman2 masa sekolah dulu, saya takjub betapa teman2 yang dulu nilainya terlihat biasa2 saja, ternyata punya pencapaian hebat yang diraih lewat jalur akademik.

Ternyata JENIUS itu, dalam satu dan lain bentuk, hanya soal MAU.

MINDER?

Suatu hari di tahun 2003, saya bertemu dengan kawan yang pendapatnya bernas dan referensinya luas di forum2 online.

Saya, yang waktu itu baru diwisuda dan tak tau apa2 soal dunia, mengirim email japri dan bertanya, “Mba dulu kuliah di mana? Ambil jurusan apa?”

Betapa kaget saya ketika dia menjawab bahwa dia ibu rumah tangga, lulusan SMA, dan tidak pernah kuliah.

Sejak saat itu saya insyaf, tidak lagi kagum atau meremehkan seseorang semata berdasarkan gelar atau jabatan.

Dan perjalanan hidup seterusnya mempertemukan saya pada banyak sekali ibu2 rumah tangga lain, yang memilih tidak berkarir, yang tiap hari nyebokin anak dan ngepel tumpahan susu, tapi ketika mereka buka mulut, yang keluar adalah ilmu dan nasihat.

Karena itu saya tidak pernah berkomentar atau share gambar tentang ‘jangan memandang rendah profesi ibu rumah tangga’. Karena memang saya tidak pernah memandang rendah.

Pengalaman mengajarkan saya demikian.

Hari ini, saya berkesempatan duduk di antara para doktor dan ahli. Nyengir aja dah sepanjang waktu, karena emak2 penggemar drama korea, yang kebetulan bekerja sebagai guru sekolah kampung, punya ijasah juga mentok di S1, qadarullah kok ya ada di ruangan ini.

Tapi alhamdulillah, saya tidak merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari yang lain.

Sekali lagi, saya sudah tidak lagi kagum atau meremehkan seseorang semata berdasarkan gelar atau jabatan.

BANDROLNYA GA DILEPAS

Tas cewek itu ribet, rempong modelnya tapi dikit muatnya? Emang, tapi saya sukanya tas model cewek.

Sepatu cewek itu ribet, haknya tinggi, kalo dipake lama2 bikin pegel, ga bisa jalan cepet, dan gampang rusak? Emang, tapi saya sukanya sepatu model cewek.

Pokoknya, saya suka yang ribet-ribet dah.

Tapi saya ga gitu suka beli alas kaki. Jadi biasanya nabung untuk beli sepatu/sandal yang rada mihil tapi terbukti kuat, dan bertahun-tahun ga ganti-ganti.

Kalo tas, saya udah lamaaaaa banget ga beli. Biasanya kalau datang ke rumah ibu saya, saya periksain barang-barang beliau, “Ada yang baru ga, Mah?”

Ibu saya jualan baju, dan penjelajah Tanah Abang. Jadi soal segala yang up to date dalam mazhab Tenabang, dia tau lebih dulu. Tapi karena aliran mode saya rada beda, banyak barang yang cuma bisa saya kagumi, tapi ga bisa saya pake. Make’nya ga sampai hati, hwahahah…..

Nah, di rumah ibu saya ini kadang ada aja tas yang lumayan. Parfum ori juga. Biasanya tas/parfum itu hadiah dari kolega. Ibu saya nyuruh saya ambil parfumnya, karena ibu saya ga demen parfum yang baunya ‘adem’. Saya ga suka parfum, jadi cuma saya liatin tasnya aja.

Kisaran harga tas-tas di rumah ibu saya sekitar 500ribu-1juta, mihil hil hil buat saya. Ibu saya bilang, ini gope, ini delapan ratus, dst. “Kok tau harganya, Mah?” tanya saya. Soalnya ini hadiah, dan ibu saya ga demen pake apalagi beli tas mahal. Menurutnya tas mahal itu berat, jadi dia lebih suka tas lima puluh ribuan aja. Makanya saya penasaran ia tau dari mana harganya.

Ibu saya jawab, “Pas dikasih, bandrolnya ga dilepas sama yang ngasih.”

Hwahahaha….

MUSIM PEMILU

Jiah, nulis soal politik? Hahaha…. mana paham, saya.

Tapi teringat sekitar tahun 2004. Saat itu saya baru saja kembali dari Jepang, dengan semangat belajar agama yang sedang berkobar. Maklum, merasakan jadi minoritas di negeri seberang. Saya ikut mengaji di sebuah lingkaran berisi ibu-ibu muda, di sebuah rumah tak berapa jauh dari rumah. Saya tau afiliasi politik pengajian ini, dan itu bukan masalah. Saya tertarik dengan metode dan tujuan besarnya, bukan partainya.

Lalu datang masa…. bagaimana saya mengistilahkannya, kampanye terbuka? Ketika nama salah satu partai secara eksplisit disebut sebagai materi pengajian. Dan pertanyaan mulai merubung kepala saya. Tapi saya tidak bilang pada siapa-siapa kecuali suami.

Suatu hari, sendirian, saya datang ke guru ngaji saya, mempertanyakan satu hal sederhana, “Apakah kalau belajar agama di sini, jadi wajib memilih partai itu?”

Reaksinya agak mengejutkan. Setelah itu, saya tidak lagi bertemu teman-teman sepengajian saya yang dulu, dan itu bukan atas kehendak saya.

Patah hati, saya pergi ke Depok, ke tempat mentor yang pertama mengajak saya duduk melingkar mengkaji ilmu dengan metode ini ketika masih jadi mahasiswa baru. Sambil menangis saya bertanya, apa salah saya. Dia menjawab panjang lebar semua yang jadi unek-unek di hati saya, dan berkata bahwa kadang penafsiran seseorang terhadap suatu prinsip sangat mungkin berbeda, dan bukan berarti pengajian atau partainya yang salah.

Oke, saya mengerti. Tapi tampaknya rasa ditolak/tidak diinginkan cukup berat buat saya. Sejak saat itu saya golput.

Baiklah. itu hanya soal politik. Sejak itu saya tetap mengaji di tempat lain hingga beberapa lama, berniat hanya untuk mencari ilmu agama. Tapi lalu tak berlanjut. Seperti yang sebelumnya, tak ada kabar, tak ada informasi.

Selesai.

REWEL

Seorang ibu mencoba menenangkan balitanya yang rewel si dalam angkot yang panas dan jalanan yang macet. Kasihan, tapi bingung bagaimana saya bisa membantu. Akhirnya saya tersenyum pada ibunya, untuk memberi tau kalau saya tidak keberatan sepatu anaknya menendang-nendang dan mengotori celana putih saya.

Saya pernah mengalami hal yang persis sama waktu anak2 kecil dulu, dan seorang ibu setengah baya marah karena terciprat sedikit air putih dari botol minum yang saya pegang sambil memegang bayi yang sedang rewel dan menenangkan dua kakaknya.

Tiap orang harusnya mempermudah tiap kondisi untuk ibu dengan bayi/balita. Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia.

TRYING TO FIGURE IT OUT

Saya ini lahir ga cakep2 amat, ga pinter2 amat, ga kaya2 amat, ga hebat2 amat, ga beda2 amat. Tapi seharusnya Allah telah menyediakan bagi orang biasa2 seperti saya ini satu tempat dalam kehidupan, di mana saya berharga bagi beberapa orang; dicintai dan bermanfaat. Dan sepanjang hidup, saya akan terus dan masih mencari tempat yang Allah sediakan untuk saya itu.
Selain itu, karena Allah sayaaaaang sama saya, saya percaya 100% Dia telah menciptakan beberapa orang di kehidupan ini, di mana potongan jiwa mereka pas dipasangkan dengan jiwa saya; pasangan hidup, keluarga, sahabat. Dan sepanjang hidup, saya akan dan masih terus mencari orang2 yang Allah ciptakan untuk saya itu.